Judul : Religiusitas Muslim Pesisir
Selatan
Pengarang : Sardjuningsih
Penerbit : STAIN Kediri Press (Cetakan
I:2012)
Halaman : 83-97
Religiusitas Masyarakat Jawa
Sinkretisme
merupakan karakteristik keagamaan di tanah Jawa, di mana selain mempercayai
Allah dan syari’ah Islam, mereka juga mempercayai roh halus, roh nenek moyang
dan kekuatan-kekuatan ghaib yang lain. Oleh para ahli kebudayaan, hal ini
disebut dengan Agama Jawa, Islam Jawa
dan Kejawen. Dengan ciri utama
menyerap karakteristik dari ajaran Animisme, Hindu-Budha dan Islam. Kedatangan
Islam di Jawa tidak mengubah ajaran
sebelumnya yang telah mengakar di masyarakat. Namun yang terjadi adalah
mayarakat tetp mengamalkan ajaran nenek moyang mereka yang dianggap memiliki
kekuatan moral yang lengkap.
Kejawen
merupakan kategori unik dalam masyarakat Jawa. Tradisi kejawen dalam
pelaksanaannya berbeda-beda pada setiap daerah. Adapun menurut Dawami, sistem
berpikirnya suka terhadap adanya mitos, dan sistem perilaku orang Jawa sulit
lepas dari aspek kepercayaan terhadap hal-hal tertentu. Hal ini yang
menyebabkan pemikiran mistik selalu mendominasi perilaku orang Jawa. Penganut
kejawen biasanya berasal dari agama yang berbeda-beda, namun mereka menyatu
dalam satu wadah ritual mistik kejawen.
Penyebab
munculnya Kejawen, terbagi menjadi dua pendapat beberapa ahli seputar aspek
dogma agama-agama besar dan perubahan sosial dalam modernitas. Tokoh-tokoh
seperti hamka, Abdurrahman Wahid, Sopater dan Hadiwiyono yang memberikan
argumentasi alasan munculnya kejawen disebabkan oleh kegagalan dogmatisme
agama-agama besar yang gagal mengakomodasikan kepentingan masyarakat Jawa.
Sementara tokoh lainnya seperti De Jung, Mulder, dan Koentjoroningrat
memberikan alasan munculnya Kejawen adalah reaksi atas menurunnya nilai-nilai
di era modern ini.
Pada dasarnya
manusia hidup dengan belajar dari pengalaman yang dilalui. Orang Jawa tidak
membeda-bedakan antara sikap religius dan bukan religius, namun menganggap
interaksi sosial sekaligus sikap terhadap alam , dan sebaliknya sikap terhadap alam memiliki
relevansi sosial. Menurut Magnis Suseno,
yang khas dari pandangan dunia Jawa adalah realitasnya yang tidak
dibagi-bagi dalam berbagai bidang yang terpisah-pisah, dan tanpa ada hubungan
satu sama lain, melainkan di pandang sebagai satu kesatuan. Dalam pandangan
dunia Jawa, religiusitas perihal kejawen merupakan sikap pragmatis untuk
mendapatkan kondisi psikis yang penuh ketentraman, kedamaian, ketenangan dan
keseimbangan batin sehingga bagi pandangan jawa nilai kepercayaan ini tidak
dapat dipisahkan dari dunia secara
keseluruhan. Jadi jika kita membahas pandagan perihal dunia Jawa maka
kita akan menjumpai perpaduan dari aspek agama, mitos dan beberapa hal lain
seperti sarana untuk menghadapi dunia lain.
Adapun menurut
Purwadi, hal yang menonjol dari masyarakat Jawa adalah Kasekten, karena hal ini memiliki makna tersendiri dn penting bagi
masyarakat Jawa. Hal ini terkandung dalam ajaran bahwa masyarakat Jawa harus
berwibawa, sedangkan berwibawa haruslah memiliki kasekten. Berdasarkan
keterangan ini, adapun filsafat Jawa memiliki ciri monopluralistik-sinkretik.
Plural karena memiliki ciri lebih dari satu seperti pertanian, gunung, laut dan
kasekten. Sinkretik karena masyarakat Jawa memiliki sifat yang luwes, dapat
menerima berbagai ciri tanpa menimbulkan goncangan. Monopluralistik karena
semua ciri tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain, dan merupakan
kesatuan yang bulat dan puncaknya adalah Allah Tuhan Yang Maha Esa.
Adapun
religiusitas masyarakat Jawa tidak lepas dari seputar aspek tradisi, etika dan
mistik. Tradisi masyarakat yang dianggap pengaruh dari ajaran Pras-Islam
seperti Animisme, Dinamisme dan Hindu-Budha menjadi sangat penting dihadapkan
pada kebutuhan manusia akan ketentraman, keselamatan dan kemujuran. Semakin
tinggi kebutuhan akan hal-hal itu maka akan semakin tinggi ketaatan terhadap
tradisi.
Terkait mistik
yang mendominasi kehidupan masyarakat jawa berasal dari pengaruh ajaran tentang
Roh. Kepercayaan terhadap adanya Roh yang menginspirasi masyarakat untuk selalu
menyembah roh-roh halus dan roh-roh leluhur. Roh-roh ini diperdayakan oleh
masyarakat sendiri sesuai dengan kepentingannya melalui persembahan dalam
ritual religi berupa selametan. Makna selametan sendiri mencakup oleh cosmos,
teologis dan sosial. Karena mengandng makna yang sakral bagi orang Jawa sebagai
bentuk pemujaan, pengabdian, persembahan, pengorbanan, sedekah, kebersamaan,
persaudaraan dan kerukunan. Dalam selametan sendiri memiliki keselarasan hidup
antara manusia dengan jagad alam.
Pandangan hidup
masyarakat jawa pada dasarnya tidak terlepas dari sikap masyarakat Jawa sendiri
yang pada akirnya menjadi nilai luhur budaya Jawa. Salah satu sikap tersebut
adalah manjing ajur aje, yang
merupakan sikap keterbukaan dalam hal apapun, sehingga pada saat agama dari
luar masuk, masyarakat Jawa terbuka dlam menerimanya. Namun penerimaan tersebut
tidak sepenuhnya dapat dijalankan dengan murni. Lantas hal ini yang menjadi penyebab
agama Abangan sebagai bentuk sinkretisme dari agama-agama sebelumnya dengan
agama-agama yang dianut sekarang. Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari
golongan abangan mempadukan antara ritual kejawen dengan syariat Islam.
Misalnya seperti selametan orang meninggal dari golongan Islam abangan akan
dibacakan tahlil selama tujuh hari, kemudian pada hari ketujuh akan diadakan
selametan berupa sesaji kenduri yang akan dibagikan kepada warga sekitar.


0 komentar:
Posting Komentar