Jumat, 10 November 2017

Religiusitas Masyarakat Jawa


Judul                : Religiusitas Muslim Pesisir Selatan
Pengarang        : Sardjuningsih
Penerbit            : STAIN Kediri Press (Cetakan I:2012)
Halaman           : 83-97

Religiusitas Masyarakat Jawa

Sinkretisme merupakan karakteristik keagamaan di tanah Jawa, di mana selain mempercayai Allah dan syari’ah Islam, mereka juga mempercayai roh halus, roh nenek moyang dan kekuatan-kekuatan ghaib yang lain. Oleh para ahli kebudayaan, hal ini disebut dengan  Agama Jawa, Islam Jawa dan Kejawen. Dengan ciri utama menyerap karakteristik dari ajaran Animisme, Hindu-Budha dan Islam. Kedatangan Islam di  Jawa tidak mengubah ajaran sebelumnya yang telah mengakar di masyarakat. Namun yang terjadi adalah mayarakat tetp mengamalkan ajaran nenek moyang mereka yang dianggap memiliki kekuatan moral yang lengkap.



Kejawen merupakan kategori unik dalam masyarakat Jawa. Tradisi kejawen dalam pelaksanaannya berbeda-beda pada setiap daerah. Adapun menurut Dawami, sistem berpikirnya suka terhadap adanya mitos, dan sistem perilaku orang Jawa sulit lepas dari aspek kepercayaan terhadap hal-hal tertentu. Hal ini yang menyebabkan pemikiran mistik selalu mendominasi perilaku orang Jawa. Penganut kejawen biasanya berasal dari agama yang berbeda-beda, namun mereka menyatu dalam satu wadah ritual mistik kejawen.




Penyebab munculnya Kejawen, terbagi menjadi dua pendapat beberapa ahli seputar aspek dogma agama-agama besar dan perubahan sosial dalam modernitas. Tokoh-tokoh seperti hamka, Abdurrahman Wahid, Sopater dan Hadiwiyono yang memberikan argumentasi alasan munculnya kejawen disebabkan oleh kegagalan dogmatisme agama-agama besar yang gagal mengakomodasikan kepentingan masyarakat Jawa. Sementara tokoh lainnya seperti De Jung, Mulder, dan Koentjoroningrat memberikan alasan munculnya Kejawen adalah reaksi atas menurunnya nilai-nilai di era modern ini.



Pada dasarnya manusia hidup dengan belajar dari pengalaman yang dilalui. Orang Jawa tidak membeda-bedakan antara sikap religius dan bukan religius, namun menganggap interaksi sosial sekaligus sikap terhadap alam , dan  sebaliknya sikap terhadap alam memiliki relevansi sosial. Menurut Magnis Suseno,  yang khas dari pandangan dunia Jawa adalah realitasnya yang tidak dibagi-bagi dalam berbagai bidang yang terpisah-pisah, dan tanpa ada hubungan satu sama lain, melainkan di pandang sebagai satu kesatuan. Dalam pandangan dunia Jawa, religiusitas perihal kejawen merupakan sikap pragmatis untuk mendapatkan kondisi psikis yang penuh ketentraman, kedamaian, ketenangan dan keseimbangan batin sehingga bagi pandangan jawa nilai kepercayaan ini tidak dapat dipisahkan dari dunia secara  keseluruhan. Jadi jika kita membahas pandagan perihal dunia Jawa maka kita akan menjumpai perpaduan dari aspek agama, mitos dan beberapa hal lain seperti sarana untuk menghadapi dunia lain.



Adapun menurut Purwadi, hal yang menonjol dari masyarakat Jawa adalah Kasekten, karena hal ini memiliki makna tersendiri dn penting bagi masyarakat Jawa. Hal ini terkandung dalam ajaran bahwa masyarakat Jawa harus berwibawa, sedangkan berwibawa haruslah memiliki kasekten. Berdasarkan keterangan ini, adapun filsafat Jawa memiliki ciri monopluralistik-sinkretik. Plural karena memiliki ciri lebih dari satu seperti pertanian, gunung, laut dan kasekten. Sinkretik karena masyarakat Jawa memiliki sifat yang luwes, dapat menerima berbagai ciri tanpa menimbulkan goncangan. Monopluralistik karena semua ciri tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain, dan merupakan kesatuan yang bulat dan puncaknya adalah Allah Tuhan Yang Maha Esa.



Adapun religiusitas masyarakat Jawa tidak lepas dari seputar aspek tradisi, etika dan mistik. Tradisi masyarakat yang dianggap pengaruh dari ajaran Pras-Islam seperti Animisme, Dinamisme dan Hindu-Budha menjadi sangat penting dihadapkan pada kebutuhan manusia akan ketentraman, keselamatan dan kemujuran. Semakin tinggi kebutuhan akan hal-hal itu maka akan semakin tinggi ketaatan terhadap tradisi.



Terkait mistik yang mendominasi kehidupan masyarakat jawa berasal dari pengaruh ajaran tentang Roh. Kepercayaan terhadap adanya Roh yang menginspirasi masyarakat untuk selalu menyembah roh-roh halus dan roh-roh leluhur. Roh-roh ini diperdayakan oleh masyarakat sendiri sesuai dengan kepentingannya melalui persembahan dalam ritual religi berupa selametan. Makna selametan sendiri mencakup oleh cosmos, teologis dan sosial. Karena mengandng makna yang sakral bagi orang Jawa sebagai bentuk pemujaan, pengabdian, persembahan, pengorbanan, sedekah, kebersamaan, persaudaraan dan kerukunan. Dalam selametan sendiri memiliki keselarasan hidup antara manusia dengan jagad alam.




Pandangan hidup masyarakat jawa pada dasarnya tidak terlepas dari sikap masyarakat Jawa sendiri yang pada akirnya menjadi nilai luhur budaya Jawa. Salah satu sikap tersebut adalah manjing ajur aje, yang merupakan sikap keterbukaan dalam hal apapun, sehingga pada saat agama dari luar masuk, masyarakat Jawa terbuka dlam menerimanya. Namun penerimaan tersebut tidak sepenuhnya dapat dijalankan dengan murni. Lantas hal ini yang menjadi penyebab agama Abangan sebagai bentuk sinkretisme dari agama-agama sebelumnya dengan agama-agama yang dianut sekarang. Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari golongan abangan mempadukan antara ritual kejawen dengan syariat Islam. Misalnya seperti selametan orang meninggal dari golongan Islam abangan akan dibacakan tahlil selama tujuh hari, kemudian pada hari ketujuh akan diadakan selametan berupa sesaji kenduri yang akan dibagikan kepada warga sekitar.

0 komentar:

Posting Komentar