Tadinya mau membiarkan buku ini cukup menjadi bacaan saja seperti biasa, ternyata tidak rela. Narasi segar yang diangkat Kalis Mardiasih berbeda dari beberapa buku bertema muslimah lain yang lebih banyak memberikan khasanah perihal bagaimana menjadi muslimah yang dicemburui oleh bidadari surga, kalau pun tidak ya sebagaimana buku muslimah yang saya baca sebelumnya, terhenti di halaman sub bab perihal menjadi perempuan baik untuk suami dan anaknya. Mari membuat pengakuan, bahwa buku hardcover tebal yang terpajang rapi pada rak buku di kamar saya itu kalah menarik dengan buku pinjaman bersampul nuansa kuning kunyit berilustrasikan beberapa wajah perempuan, ya Muslimah yang Diperdebatkan.
Muslimah, yang lebih banyak dinarasikan sebagai perempuan anggun, sholihah, menjaga pandangan, berjilbab brukut, dan banyak kali dicengin ukhti, yang sayangnya tidak semua perempuan beragama islam punya kesempatan untuk memenuhi definisi umum muslimah itu, dalam buku ini dikupas secara mendalam, sistemik, dan tidak jauh dari realitas keseharian kita. Katakanlah perihal muslimah yang tak lebih dari komoditas kapital, baik produk kosmetik, pakaian bahkan kontes hijab. Membacanya bikin saya merasa menemukan kawan sekaligus pembenaran, 𝘢𝘩 𝘪𝘺𝘢 𝘴𝘬𝘪𝘯𝘬𝘦𝘳 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘳𝘬𝘦𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘭𝘢𝘭 𝘪𝘯𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘪𝘯𝘥𝘦𝘳 𝘬𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘵𝘦𝘮𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘳𝘬𝘦𝘭 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘬𝘪𝘯𝘬𝘦𝘳 𝘩𝘢𝘭𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢, 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘤𝘰𝘤𝘰𝘬 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘳𝘰𝘥𝘶𝘬 𝘪𝘵𝘶.. Persaingan produsen jilbab dengan klaim syari pun, tergambar mengerikan. Karena strategi pemasaran atas nama halal dengan sertifikasi MUI ini, brand pakaian muslimah terkenal yang banyak diminati di pasaran pun saling menjatuhkan. Kontes hijab hunt yang dari segi nama saja sudah pelik, begitu juga isi dari pergelaran acaranya kebetulan ketika Ramadhan mengangkat sesi mengaji surat al ikhlas yang kebetulan sialnya ditimpali lagi dengan celetukan pamer tak kalah bisa dari keponakan mbak Kalis yang masih TK. “𝑳𝒉𝒐 𝒂𝒌𝒖 𝒋𝒖𝒈𝒂 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒔𝒖𝒓𝒂𝒕 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒊𝒕𝒖!”
Secara pribadi saya berhenti mempermasalahkan pakaian sejak 4 tahun lalu, spesifiknya ketika berupaya agar terlihat keren dengan menulis status facebook kutipan Ali Syariati perihal identitas pakaian yang mengkotakkan-kotakkan manusia. Hal ini berkesinambungan dengan pembahasan favorit saya tentang selembar kain kerudung di kepala politikus perempuan. Pembebasan jilbab dari muatan nilai, dan ajakan untuk memandang jilbab sebagai pakaian kesopanan ini sangat sesuai dengan realitas pandangan umum yang tidak ada habis-habisnya berdebat, menggunjingkan unsur jilbab dengan perilaku pemakainya.
Jika perempuan politkus berjilbab menyumbang kiprah bagi kemajuan, itu terjadi karena ia memang mampu mengambil peran dan bukan sebab jilbabnya. Sebaliknya, jika perempuan politkus berjilbab melakukan tindakan tercela, itu terjadi karena pilihan sikap politik yang tidak tepat atau karakter yang cacat, dan bukan sebab jilbabnya.
Fenomena jargon mohon maaf sekadar mengingatkan, netizen maha tuhan yang hobi menghakimi pilihan berpakaian orang lain, hilangnya marwah muslim di internet, dan telat bangunnya islam moderat dalam upaya meredam laju arus islam jihad dengan kekerasan, tak lepas dari pembahasan dalam Muslimah yang Diperdebatkan. Beberapa bab ini bisa menjadi referensi menarik untuk diperbincangkan dalam diskusi sehari-hari. Maksud saya, lebih menarik daripada ndakik-ndakik ghibahin kebijakan pemerintah yang tak jelas apa manfaatnya buat kita selain nambah bikin pengin marah-marah.
![]() |
credit image goodreads.com |


0 komentar:
Posting Komentar