Kita tidak bertanggung jawab atas sebuah keputusan sadar orang lain. Kamu kira, penolakanmu atas seseorang menyebabkan orang lain berperilaku menyimpang. Kamu kira semua kesusahan yang terjadi pada orang lain adalah kesalahanmu. Kukira, karena ketidakhadiranku saat seorang teman terpuruk adalah penyebab ia harus terjebak di masalah rumitnya sekarang.
Ada sepasang anak kembar tinggal di lingkungan yang sama dibesarkan dengan kesehariannya melihat sosok ayah pemabuk dan tukang judi. Ketika dewasa satu anak tumbuh menjadi seorang pemabuk ketika ditanya kenapa dia menjadi seperti sekarang, jawabannya adalah karena dia melihat sosok ayahnya yang pemabuk. Satu anak tumbuh dengan karir cemerlang dan menjaga kesehatan tubuhnya, ketika ditanya apa yang menyebabkan ia menjadi seperti itu, jawabannya adalah ya karena dia melihat ayahnya yang pemabuk sehingga dia tidak ingin menjadi seperti ayahnya.
Atau kisah lain tentang 2 anak yang memiliki riwayat penyakit kulit dari ayahnya kemudian mendapat pesan dari si ayah agar mereka sebisa mungkin untuk menghindari matahari. Satu anak menjadi boros dan kekurangan secara finansial karena dengan dalih menerapkan pesan ayahnya untuk menghindari matahari ia memutuskan untuk berangkat kerja dengan menaiki taksi. Anak kedua settle dengan keuangannya, dari pesan yang sama untuk menghindari matahari ia memilih untuk berangkat kerja ketika fajar dan pulang ketika matahari sudah terbenam.
Keputusan yang ada dalam hidup seseorang adalah mutlak tanggung jawabnya. Pemikiran rasional atau irasional yang melatari keputusan, tetap saja tanggung jawab penuh ada pada diri sendiri, bukan orang lain. Kita berhak menyesali keputusan itu sama seperti kita berhak menyesali kemudian memperbaiki keputusan yang kita buat. Kita bertanggung jawab penuh atas kondisi mental kita, hal-hal yang kita lakukan, kebiasaan yang kita bangun, tontonan atau bacaan yang kita serap, pada siapa kita memprioritaskan untuk berkawan. Keputusan ada pada diri kita sendiri untuk tetap terjebak di dalam lubang atau mencari cara keluar.
Tidak ingin merepotkan orang lain tapi sehari-hari hanya diisi dengan menyalahkan pihak-pihak di luar diri. Menurut kita mereka salah, bisa jadi iya. Tapi lebih besar kesalahan kita yang membiarkan semua itu terjadi tanpa ada upaya memperbaiki, kesalahan kita lebih besar karena mengira semua kekurangtepatan yang ada tidak bisa diubah. Coba tilik, memang seberapa besar keinginan kita memperbaiki? atau kita memang pada dasarnya lebih menyukai menetap di zona jebakan itu?
Sekali lagi dan tidak pernah bosan, hidup adalah pilihan. Memilih diam atau bergerak walau hanya satu langkah, menyia-nyiakan waktu atau produktif, hanya bermain tanpa kejelasan atau mempelajari skill baru, memelihara ketakutan atau melawannya, terus terpuruk atau perlahan bangkit. Kita di masa yang akan datang adalah apa yang kita lakukan sekarang. Investasi terbesar dalam hidup bukan uang, tapi waktu yang kita sia-siakan. Waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk mempelajari banyak hal produktif malah habis dengan scrolling sosial media misalnya.
Sadari juga, kita yang bertanggung jawab penuh atas emosi yang kita rasakan. Validasi pada diri bahwa kita berhak merasakan semua emosi. Kita tidak berhak terus menerus merasa bahagia. Adakalanya kecewa, takut, jijik dan marah. Semua berjalan saling beriringan. Pun kita gak akan bisa mendefinsikan bahagia tanpa tau rasanya kecewa, kan? Kita saat ini mengejar untuk bahagia di masa depan, padahal masa yang akan datang, saat ini atau masa lalu adalah sama-sama bagian dari waktu. Tidak ada bedanya,
bedanya hanya ada pada kita memilih terus-terusan terpuruk atau semakin memperbaiki dan bertumbuh? Bedanya hanya ada pada kita merasakan dan menerima berbagai emosi yang ada saat ini atau mengabaikan?
Sekali lagi, kita yang bertanggung jawab atas apapun yang terjadi pada diri kita, bukan orang lain.

0 komentar:
Posting Komentar