Mari memberanikan diri untuk sedikit bicara tentang trauma. Mungkin berlebihan. Atau bisa kita sebut luka masa kecil. Pertama, aku di usia 9 menuju 10 tahun. 2007, setelah kematian ibu. Bocah 9 tahun itu mendengar dari pembicaraan orang-orang dewasa di sekitarnya perihal pesan terakhir yang berisi kekhawatiran si ibu kepada 2 anak terakhirnya. Ibu bahkan sama sekali tidak mengkhawatirkanku. Mungkin dia pikir aku kuat, justru kekhawatirannya menjelma menjadi aku yang selalu diliputi perasaan tidak berharga, tidak berguna, tidak diinginkan untuk ada. Nahkan menulis ini aku di usia 23 masih menangis. Lemah, tapi mari kita coba menerapi diri sendiri dengan metode tulis jurnal. Mari pelan-pelan mencatat pencapaianku untuk keluar dari perasaan-perasaan jahat ini. Tangisku makin pecah tapi tetap kupaksa menulis.
Mundur sedikit, aku lupa usia berapa tapi kala itu aku dipukul ibu di kamar mandi karena ibu mendapati Adda berlumuran lumpur di belakang rumah karena bermain denganku. Seingatku aku tidak tau sama sekali yang terjadi pada Adda, tapi aku dipukul membabi buta atas kesalahan yang bukan kuperbuat. Aku tidak tau, tapi aku salah.
Bahkan sampai saat ini aku tidak tau apa tujuan hidup, bagaimana memperbaiki semuanya. Aku kira aku sudah selesai dengan diriku, aku kira aku sudah cukup bahagia dengan segala luka-luka yang telah kulalui kemarin. Tapi semuanya masih terasa sakit. Semua bayangan pesakitan itu masih sangat berhasil membuatku menangis. Takut, marah, kecewa, membenci tapi tak bisa mendefinisikan dengan jelas tentang apa yang dibenci.
Sebentar mau minum cimory rasa choco malt dulu.
Mendingan. Jadi aku nggak tau harus gimana. Tadi mikirnya mau membenahi kamarku yang sudah kuberantakin sendiri itu, atau mencoba untuk membuat jurnal ini, tapi sepertinya mendingan nulis dulu setidaknya untuk sekadar menuangkan kekesalan yang ya seharian ini sudah cukup membuatku menangis jika mengingatnya. Mari kita coba memperbaiki semuanya lagi. Nggak apa-apa yang hancur masih bisa dibangun, yang patah masih bisa tumbuh. Kalau gagal kita coba lagi. Nggak apa-apa. Di dunia ini ada 5 emosi primer dan emosi senang bukan satu-satunya. Kamu juga berhak sedih, marah, takut dan jijik tentu saja. Kamu nggak berhak merasa senang dalam waktu yang lama. Sama halnya kamu nggak berhak bersedih dalam waktu yang lama juga.
Terima kasih telah bertahan hidup sampai hari ini, terima kasih sudah melakukan yang terbaik dan kuat sampai sekarang. Aku tau kamu bisa, kamu butuh waktu buat sembuh, kamu bisa sembuh. Kamu masih punya aku. Di dunia ini kamu nggak sendiri, kamu masih punya aku. Mereka bisa ngerusak apapun yang ada di sekitarku tapi mereka nggak akan bisa ngerusak aku. semua yang hidup pasti mati. Jadi ya setidaknya sabar aja kamu cuma perlu sabar sampai batas akhirmu sendiri. Kamu bisa ngelewatin hari-hari kemarin, kan? Ya sama aja kamu juga bisa ngelewatin besok, lusa, minggu depan. Nggak apa-apa sekarang belajar hidup untuk hari ini aja. Kamu bisa, nggak apa-apa, kan ada aku.
Oh iya, ngomong-ngomong lagu hindia didengerin pas frustrasi gini kenapa bikin nangis semua. Yang judulnya Evakuasi juara sih. padahal didengerin pas suasana hati baik-baik aja bikin eneg.
Bagus,lanjutkan
BalasHapus