Aku bermanfaat maka aku ada
Ada 3 hal penting yang perlu digarisbawahi dari buku ini, dijelaskan berulang karena saking pentingnya, tentu saja. Tapi hal inilah yang pada kenyataannya tidak pernah mendapat perhatian lebih dalam kehidupan kita baik sebagai manusia individu ataupun dalam kelompok masyarakat.
Judul Buku : Nalar Kritis Muslimah
Penerbit : Afkaruna.id
Penulis : Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm
Tebal : 225 hlm, 20,5 cm
Pertama perihal 2 pengalaman perempuan, antara pengalaman biologis perempuan dan pengalaman sosial perempuan. Pertama pengalaman biologis, hal ini terkait fungsi reproduksi yang berpotensi dialami pada manusia dengan tubuh berjenis kelamin perempuan yaitu mestruasi, hamil, melahirkan, nifas dan menyusui. Kedua, pengalaman sosial perempuan yang mengalami stigmatisasi, marjinalisasi, subordinasi, beban ganda dan kekerasan. Nah dari 2 pengalaman perempuan inilah yang kemudian mempengaruhi cara pandang dan sikap kita yang berkaitan langsung dengan apakah kita punya kesadaran untuk memanusiakan perempuan.
Nur Rofiah, menegaskan terjadinya pengalaman sosial perempuan ini tidak jauh karena adanya tafsir atas ayat al- Quran yang mengabaikan perspektif perempuan, dan kurang adanya pemahaman tentang struktur bahasa arab yang sistem budayanya membagi status manusia berdasarkan jenis kelamin menjadi antara perempuan dan laki-laki. Hal ini berbeda dengan sistem budaya jawa yang membagi status manusianya dengan kelas sosial, di antaranya priyayi, santri dan wong cilik. Hal ini dapat dilihat dari 3 perbedaan bahasanya ada ngoko, krama alus dan krama inggil.
Kedua, pandangan kesetaraan gender atau tuntutan atas persamaan hak perempuan dan laki-laki ini. Akan berubah menjadi hakikat keadilan gender jika dilihat dari dipenuhinya kebutuhan perempuan ditimbang dari segi pengalaman biologis maupun sosial perempuan. Mumet ya? Sama. Gini misal, atas dasar persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Seorang laki-laki dengan sisa-sisa paham patriarki berpendapat, "kenapa di kereta, perempuan harus diberi gerbong sendiri? kenapa untuk bus diberi bus khusus perempuan sendiri? kalau mau menegakkan kesetaraan ya harusnya nggak perlu dibeda-bedakan" pandangan ini ada karena dilihat dari upaya persamaan, mempersamakan. Beda cerita kalau adil gender, yang tentu saja tidak mengabaikan pengalaman biologis dan sosial perempuan. Menstruasi dan hamil misalnya itu merupakan kondisi khusus di mana tubuh tidak dalam keadaan prima. Ketika berperjalanan seharusnya kondisi khusus ini tidak perlu mengalami peningkatan rasa sakit karena tidak mendapatkan tempat duduk misalnya. Maka, atas dasar memperhatikan pengalaman biologis perempuan inilah dipenuhinya fasilitas khusus untuk perempuan agar tidak menambah rasa sakit karena kondisi tubuhnya. Belum lagi kalau hal terkait pemenuhan fasilitas untuk perempuan ini dilihat dari pengalaman sosial terutama terkait kekerasan seksual. Maka, pengupayaan ruang aman untuk perempuan dan kaum rentan lain sebaiknya tidak hanya didukung dengan perbaikan infrastuktur, tapi juga dengan perbaikan cara pandang masyarakatnya.
Ketiga, fungsi khalifah fil ardh dan kebermanfaatan manusia di bumi. Penugasan manusia sebagai khalifah fil ardh ini tidak diberikan khusus hanya kepada manusia laki-laki. Tapi kepada manusia yang laki-laki dan perempuan. Begitupun ketaatan kepada Allah Swt, adanya relasi kehambaan hanyalah antara Tuhan dengan makhluknya, bukan antara makhluk manusia perempuan kepada makhluk manusia laki-laki.
Manusia juga punya amanah yang melekat sebagai khalifah fil ardh yang bertugas mewujudkan kemaslahatan seluas-luasnya kepada makhluk Allah Swt di muka bumi. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada Khalik. Maka, ketaatan kepada apa pun atau siapapun selain-Nya adalah ketaatan kepada nilai kemaslahatan, bukan kepada figur.
Takwa sendiri merupakan bentuk hubungan baik manusia dengan Allah swt yang kemudian melahirkan hubungan baik dengan makhluk-Nya. Sebagaimana pesan Rasulullah saw yang menegaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Ingat ya sebaik-baiknya itu yang paling bermanfaat, bukan manusia dengan jenis kelamin tertentu.
Tulis Mbak Nyai, "Aku bermanfaat maka aku ada"
Beberapa hal di atas merupakan bahasan pokok yang saya garis bawahi, padahal semua yang dijelaskan di bab per-babnya itu ilmu baru semua. Maunya ya dijabarin semua aja tapi diambil tiga biar sisanya kalian baca sendiri. Dan ya siapa sangka buku bergizi ini pada dasarnya merupakan kumpulan postingan-postingan Mbak Nyai Nur Rofiah tentang keperempuanan, kemanusiaan dan keislaman yang dituangkan di sosial media. Bagi yang pernah mengikuti Ngaji KGI (Keadilan Gender Islam) yang diinisiasi oleh Mbak Nyai sendiri dengan spirit aku bermanfaat maka aku ada, atau yang mengikuti postingan beliau di sosial media pasti akan tidak asing dengan beberapa sub bab yang dipaparkan di buku, ya balik lagi emang bukunya itu kumpulan postingan. Overall, buku ini bacaan yang sangat bisa direkomendasikan, terutama buat teman-teman yang ada hajat untuk menikah atau yang sedang dalam pernikahan dan ada keinginan untuk mewujudkan kehidupan yang lebih adil gender dan saling memanusiakan. Ah engga, buku ini bacaan buat semua manusia yang sedang mengupayakan kehidupan yang lebih maslahat aja deh. Ingat ya, manusia~
Akhir kata, thanks for reading. I love Allah, i love me, i love Mbak Nyai Nur Rofiah!


0 komentar:
Posting Komentar