Jumat, 28 April 2017

Hakikat Kuliah



Kuliah
Aktivitas mencari ilmu yang dilakukan di Perguruan Tinggi, Universitas, Institut, Politeknik, Sekolah Tinggi, dengan berbagai jenjang lulusan yang telah dibekali skill sesuai jurusan yang ditempuh.


Kenapa sih harus kuliah?
Pada dasarnya setiap orang punya pendapat yang berbeda-beda dalam menanggapi eksistensi kuliah. Tapi untuk konteks Indonesia masa kini, kuliah merupakan hal biasa yang mudah-atau tidak mudah dilakukan oleh semua orang. Kalau menurut persepsiku sebagai manusia disguna, kuliah itu tentang konsep diri. Jika seseorang memiliki konsep diri sesederhana "beribadahlah seolah besok akan mati" bisa jadi kuliah bukanlah suatu hal penting. Beda cerita jika seseorang memilki konsep diri serumit "bisa jadi apa saya nanti" maka kuliah manjadi salah satu alternatif untuk menemukan jawaban "saya akan menjadi..".



Mahasiswa itu Tukang Masak
Kuliah, kalau boleh diilustrasikan dalam grafik sesederhana memasak, maka mata kuliah yang kita dapatkan merupakan semua bahan-bahan dasar. Terigu, kanji, sagu, garam, telur, air, gula, dan 150 an sks lainnya. Maka kita-aku kamu dan kalian semua, adalah 'pencipta' sebagai penentu akan menjadi apa bahan bahan yang tersedia. Tambah kubis sama tauge bisa jadi ote-ote, pakai bahan seadanya bisa jadi cilok, tambah tutorial lain bisa jadi roti brownies. Jadi omlet juga enak. Intinya, yang mengaduk dan memproses bahan bahan itu ya kita, terlepas dari akan bergunakah kelak ilmu yang didapat dari kuliah hari ini.




Entah Chef atau Koki
Di sini, Mahasiswa itu sendiri punya pilihan untuk menjadi chef atau koki. Ilmu yang telah didapat, ipk yang gak memalukan kalau ditanya teman lama, terutama gelar yang hakikatnya sebagai pendukung agar apa yang dicita-citakan semakin dekat untuk diwujudkan. Maka dia berhasil menjadi seorang chef.
Koki sendiri menurut saya adalah kita, mahasiswa yang lebih dari sekedar memiliki bahan masakan yang mengerti tentang makna lebih dari sekedar hasil masakan. Yang penting itu isi bukan gelar. Apalagi nilai.




Metamorfosis
Nikmati proses, walau 4 kali lebaran kelihatan lama, sebenarnya kalau dijalanin sungguh-sungguh empat tahun itu  sebentar. Sebagai tukang masak, hayati proses, nikmati dengan perasaan untuk hasil yang terbaik kelak. Walau gak bisa dipungkiri selalu ada banyak hal yang membuat proses itu sedikit terhambat. Tapi bukankah masalah itu mendewasakan. Semacam kita tidak akan belajar kalau tidak ada ujian.





Jadi, intinya kuliah adalah berproses. Proses pendewasaan. Asal tau aja, untuk menjadi seorang yang ahli kita membutuhkan waktu 10.000 jam yang jika dikalkulasikan 3 jam sehari maka kita membutuhkan waktu 10 tahun untuk menjadi seorang yang ahli dalam suatu bidang. Dan pertanyaannya, apakah kita benar-benar memberikan 3 jam perhari kita untuk mendapatkan suatu keahlian? Maka mari terus berproses. Kita boleh merasa lelah dalam belajar, tapi tidak untuk menyerah karenanya.

0 komentar:

Posting Komentar