Senin, 12 Juni 2017

Aspek Emosi pada Tahap Perkembangan Remaja





BAB I
Pendahuluan


1. Latar Belakang
Salah satu tahap perkembangan yang mengalami masa kritis dalam rentan kehidupan adalah masa remaja. Dari baik buruk perilaku yang ditampilkan remaja, termasuk penyimpangan yang terjadi di dalamnya.  Banyak hal yang terjadi di masa ini, dari terjadinya perubahan pada aspek fisik sampai moral dan kreatifitas.
Perubahan aspek fisik yang erat kaitannya dengan perubahan pada aspek emosi remaja yang diangkat pada tema makalah ini, akan menjelaskan perkembangan aspek emosi remaja dari masa remaja awal sampai masa remaja akhir, yang tercakup di dalamnya perasaan yang dialami remaja hingga minat dan cita-cita yang berkembang.


2. Rumusan Masalah
• Apa pengertian tersendiri emosi dalam psikologi?
• Apa definisi dari remaja dan batasan usia remaja?
• Bagaimana perkembangan konsep diri pada remaja?
• Bagaimana keadaan emosi pada masa remaja?
• Bagaimana perkembangan emosi pada masa remaja awal?
• Bagaimana perkembangan emosi pada masa remaja akhir?


3. Tujuan Pembahasan
• Untuk mengetahui definisi emosi dalam psikologi.
• Untuk mengetahui definisi remaja dan batasan usia remaja.
• Untuk memgetahui perkkembangan konsep diri remaja.
• Untuk mengetahui keadaan emosi pada masa remaja.
• Untuk mengetahui perkembangan emosi pada masa remaja awal.
• Untuk mengetahui perkembangan emosi pada masa remaja akhir.








.

BAB II
Pembahasan

1. Substansi Emosi
Definisi emosi menurut beberapa ahli
William James (1955), emosi adalah kecenderungan untuk memiliki perasaan yang khas bila berhadapan dengan objek tertentu dalam lingkungannya.
Crow & Crow (1962), emosi sebagai suatu yang bergejolak pada diri individu yang berfungsi sebagai inner adjusment (penyesuaian dari dalam) terhadap lingkungan untuk mencapai kesejahteraan dan keselamatan individu.
Empat fungsi emosi menurut Coleman dan Hammen (1974, dalam Rakhmat, 1994).
1) Emosi sebagai pembangkit energi
Tanpa emosi, kita tidak sadar atau mati. Hidup berarti merasai, mengalami, bereaksi dan bertindak. Emosi membangkitkan dan memobilisasi energi.
2) Emosi adalah pembawa informasi
Bagaimana keadaan diri seseorang dapat diketahui dari emosi yang sedang dirasakan.
3) Emosi sebagai komunikator
Bukan saja sebagai pembawa informasi dalam komunikasi intarpersonal, tetapi juga sebagai pembawa pesan dalam komunikasi intrepersonal. Dalam beberapa penelitian membuktikan bahwa ungkapan emosi dapat dipahami secara universal.
4) Emosi sebagai sumber informasi
Emosi merupakan sumber informasi tentamg keberhasilan seseorang. Seseorang yang mendambakan kesehatan dan memgetahuinya ketika ia merasa sehat walafiat. Ia mencari keindahan dan mengetahui bahwa telah memperolehnya ketika merasakan kenikmatan estetis dalam diri.
Semua emosi pada dasarnya melibatkan berbagai pertumbuhan tubuh yang tampak dan tersembunyi, baik yang dapat diketahui atau tidak, seperti perubahan dalam pencernaan, denyut jantung, tekanan darah, jumlah hemoglobin, sekresi adrenalin, jumlah dan jenis hormon, malu, sesak nafas, gemetar, pucat, pingsan, menangis dan rasa mual.


2. Remaja Menurut WHO
Pada tahun 1974, WHO memberikan definisi tentang remaja yang lebih bersifat konseptual. Dalam definisi tersebut dikemukan tiga kriteria yaitu, biologis, psikologis, dan sosial ekonomi. Sehingga secara lengkap definisi tersebut berbunyi sebagai berikut:
Remaja merupakan suatu masa di mana:
• Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
• Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari anak-anak menjadi dewasa.
• Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri,
Pada tahun-tahun berikutnya, definisi ini semakin berkembang ke arah yang lebih konkrit operasional. Ditinjau dari bidang kegiatan WHO, yaitu kesehatan, masalah yang terutama dirasakan mendesak mengenai kesehatan remaja adalah kehamilan yang terlalu awal. Dari sini, WHO menetapkan batas usia 10 – 20 tahun sebagai batasan usia remaja.

3. Konsep Diri pada Remaja
Setiap orang tua tentunya menyadari bahwa begitu banyak perubahan-perubahan yang terjadi pada seorang anak ketika usianya mulai memasuki jenjang remaja. Ia mulai tumbuh besar dan tinggi. Suaranya mulai berubah. Perhatiannya terhadap lawan jenis mulai meningkat. Ketergantungan terhadap orang tua mulai menurun dan sebaliknya keterikatan dengan teman sebaya semakin erat.
Remaja, mungkin bertambah berani, lebih ramai, menjadi seseorang yang lebih mampu mengungkapkan dirinya atau justru malah terjadi sebaliknya. Menjadi lebih seseorang yang cenderung pendiam dan menarik diri. Remaja mungkin menjadi lebih sensitif, pemarah atau menjadi sosok yang tidak bisa dikenali oleh orang tua karena dahulunya ia adalah remaja pendiam dan penurut.
Masa remaja, seperti banyak anggapan yang ada, merupakan masa-masa yang dipenuhi dengan berbagai macam perubahan dan terkadang tampil sebagai masa yang tersulit dalam kehidupan, sebelum remaja beranjak ke ranah dewasa.
Pada masa anak-anak konsep diri yang dimiliki seseorang biasanya berlainan dengan konsep diri yang dimilikinya ketika ia memasuki usia remaja. Pada masa anak-anak, konsep diri yang diciptakan masih bersifat tidak realistis, hanya berdasarkan imajinasi-imajinasi tertentu di dalam diri. Seperti seorang anak yang melihat dirinya sebagai sosok bidadari yang cantik dan menarik, atau merasa dirinya seorang superman yang bisa melakukan apa saja..,
Jika perkembangan seorang anak masuk kategori normal, maka konsep diri yang lama harus diganti dengan konsep diri yang baru dan sejalan dengan pengalaman yang ia peroleh pada masa-masa selanjutnya setelah masa anak-anak. Jadi, konsep diri yang dahulu bersifat tidak realistis berganti dengan konsep diri yang lebih realistis.i
Konsep diri sebenarnya terbentuk berdasarkan persepsi seseorang mengenai sikap-sikap orang lain terhadap dirinya. Pada seorang anak, ia mulai belajar berpikir dan merasakan dirinya seperti apa yang telah ditentukan oleh orang lain dalam lingkungannya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri
Beberapa faktor spesifik yang berkaitan erat dengan konsep diri yang bagaimana yang akan dikembangkan oleh seorang remaja. Faktor-faktor tersebut  antara lain:
• Jenis Kelamin
Di dalam keluarga, lingkungan sekolah ataupun lingkungan masyarakat yang lebih luas akan berkembang bermacam-macam tuntutan peran yang berbeda berdasarkan jenis kelamin.
Menjelang masa remaja, begitu banyak tekanan-tekanan sosial yang dialami seseorang dan berpengaruh secara signifikan terhadap perkembangan konsep dirinya. Stereotip sosial yang muncul dalam masyarakat memegang peranan penting dalam menentukan bagaimana seharusnya seorang wanita atau pria bertindak dan berperasaan. Walaupun stereotip tidak ditekankan secara langsung, tetapi dapat dirasakan melalui cara-cara yang informal, yaitu misalnya melalui kelompok usia si remaja, orang-orang dewasa tertentu dan juga media komunikasi lainnya yang mana menuntut bahwa seorang pria itu harusnya lebih agresif dibandingkan dengan seorang wanita.

• Harapan-harapan
Stereotip sosial mempunyai peranan penting dalam menentukan harapan-harapan apa yang dipunyai oleh seorang remaja terhadap dirinya sendiri itu merupakan pencerminan dari harapan-harapan orang lain terhadap dirinya. Harapan-harapan ini penting bagi perkembangan konsep diri remaja sendiri.
• Suku Bangsa
Dalam suatu masyarakat, umumnya terdapat suatu kelompok suku bangsa tertentu yang dapat dikatakan tergolong sebagai kaum minoritas. Di Amerika misalnya, kaum berkulit hitam-lah yang biasa dianggap sebagai kelompok yang terkesampingkan atau sebagai kelompok minoritas. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kelompok semacam ini umumnya memiliki konsep diri yang cenderung lebih negatif dibandingkan dengan kelompok yang bukan tergolong minoritas.
• Nama dan pakaian
Nama-nama tertentu yang akhirnya menjadi bahan tertawaan dari teman-teman, akan membawa seorang remaja ke pembentukan konsep diri yang lebih negatif. Juga misalnya nama-nama panggilan tertentu, misal : si pandir, si bodoh atau si centil dan sebagainya, dapat menyebabkan seseorang benar-benar beranggapan bahwa dirinya memang demikian. Sebaliknya, nama-nama panggilan yang bernada lebih positif, misalnya : si pandai, si cantik, ataupun si pemberani, dapat mengubah konsep diri seseorang ke arah yang lebih positif dan kemungkinan dapat meningkatkan prestasi kerjanya sesuai dengan panggilan-panggilan tersebut.
Demikian halnya dengan cara berpakaian. Melalui caranya seseorang berpakaian, kita dapat menilai atau mempunyai gambaran mengenai bagaimana si remaja itu melihat dirinya sendiri. Apakah ia sebagai seseorang “konformis” yang selaku berpakaian sesuai dengan kelompoknya, ataukah oa sebagai remaja yang feminim atau maskulin atau apakah ia sebagai pribadi yang pendiam, yang sedih atau bahagia, semuanya dapat diamati melalui caranya seseorang berpakaian. 

4. Keadaan Emosi Selama Masa Remaja
Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”, suatu masa di mana ketegamgan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Tingginya emosi pada remaja laki-laki dan perempuan terutama dikarenakan tekanan sosial dalam menghadspi kondisi baru, sedangkan selama masa anak-anak, remaja kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan sulit.
Meskipun emosi pada remaja seringkali sangat kuat, tidak terkendali dan tampak irasional, namun pada umumnya dari tahun ke tahun terjadi perbaikan perilaku emosional. Menurut Gesell dkk., remaja empat belas tahun seringkali mudah marah, mudah dirangsang, dan emosinya cenderung “meledak”, tidak berusaha mengendalikan perasaannya. Sebaliknya, remaja enam nelas tahun mengatakan bahwa mereka “tidak punya keprihatinan”. Jadi adanya badai dan tekanan dalam periode ini berkurang menjelang berakhirnya awal masa remaja.

5. Pertumbuhan dan Perkembangan Emosi Remaja Awal
a. Pola emosi pada awal masa remaja
Pola emosi pada masa anak-anak tidak jauh berbeda dengan pola emosi awal remsjs. Bedanya, hanys psda rangsangan yang membangkitkan emosi dan derajat, terutama dalam pengendalian latihan individu terhadap ungkapan emosinya.
Ungkapan kemarahan remaja tidak lagi meledak-ledak tetapi dengsn menggerutu, tidak berbicara, atau dengan suara keras yang mengkritik orsng-orang yang menyebabkan amarah. Remaja juga cenderung iri hati terhadap orang yang memiliki sesuatu yang lebih banyak daripadanya, tetapi jarang sekali mengeluh dan menyesalinya seperti halnya anak-anak. Untuk membeli barang yang diinginkan, remaja suka bekerja sembilan, bahkan akan berhenti sekolah bila perlu.
b. Pertumbuhan dan perkembangan sikap, perasaan atau emosi
Secara umum, Gerungan (1977) memaknai sikap sebagai kesediaan individu untuk bereaksi terhadap sesuatu. Secara lebih terperinci, sikap berarti kecenderungan yang relatif stabil yang dimiliki seseorang dalam bereaksi, baik reaksi yang positif maupun negatif, terhadap diri sendiri, orang lain, atau situasi yang berbeda sekitarnya. Makna ini membedakan sikap dengan perasaan atau emosi. Perasaan atau emosi mencakup rasa senang, benci, sayang, suka, tidak suka dan kondisi jiwa lainnya relatif cepat berubah.
Sejak bergaul dengan lingkungan, sikap, perasaan atau emosi seseorang telah ada dan berkembang. Timbulnya sikap, perasaan atau emosi itu, baik positif atau negatif, merupakan hasil pengamatan dari pengalaman individu secara unik dengan benda-benda fisik di lingkungannya, dengan orang tua dan saudara-saudaranya, serta pergaulan sosial yang lebih luas. Sebagai suatu hasil dari lingkungan yang berkembang, baik lingkungan internal maupun eksternal, sikap, perasaan atau emosi pun berkembang.
Sikap remaja awal yang berkembang lebih menonjol adalah sikap sosial, terlebih lagi sikap sosial yang berkaitan dengan teman sebaya. Setelah mengenal kepentingan dan kebutuhan yang sama, sikap positif remaja awal terhadap teman sebaya berkembang dengan pesat. Sikap setia kawan sangat dirasakan dalam kehidupan kelompok, baik yang dibentuk secara sengaja maupun yang terbentuk dengan sendirinya. Dalam usia remaja awal, simpati dan empati sudah mulai berkembang. Remaja berusaha bersikap sesuai dengan norma-norma kelompoknya. Sikap itu selalu dipertahankan remaja meskipun bisa menimbulkan berbagai konflik antara remaja dengan orang tuanya akibat perbedaan nilai. Strang, menyimpulkan bahwa konformitas remaja, seperti dalam berpakaian, menunjukkan keinginan mereka untuk diterima masuk sebagai anggota dan rasa takut mereka dari ketidaksamaan atau dikucilkan. Bahkan sejumlah hal yang bersifat lahiriah remaja itu berkaitan erat dengan konsep diri pribadi , berkorelasi dengan kpnformitas terhadap kelompok tingkah lakunya, dan citra dirinya.
Perasaan yang ditakuti remaja, seperti takut dikucilkan atau terisolasi dari kelompoknya menyebabkan mereka sangat intim dan merasa terikat dengan teman sepergaulannya. Perasaan konformitas erat kaitannya demgan sumbangasih yang diterima remaja dari teman sepergaulannya, sehingga ia merasa dibutuhkan dan merasa berharga dalam pergaulannya. Perasaan dibutuhkan dan berharga itu menimbulkan kerelaannya untuk memberikan sesuatu kepada teman sepergaulannya. Sebaliknya, teman sepergaulannya pun merasakan dibutuhkan dan merasa berharga. Hal itu terus berlangsung, sehingga keintiman terjalin baik di antara mereka.
Perasaan sedih juga termasuk emosi remaja awal yang sangat menonjol. Mereka sangat peka terhadap segala ejekan yang diarahkan kepadanya. Bila ejekan-ejekan itu dari teman sebaya, terutama yang berlainan jenis, kesedihan semakin menjadi. Sebaliknya, saat mendapatkan pujian terutama pujian terhadap diri atau hasil usahanya, mereka merasa senang. Ungkapan rasa senamg itu berbeda-beda di antara remaja, bergantung pads tipe kepribadian masing-masing.  Rasa senang lebih terlihat pada remaja yang membuka diri daripada remaja yang menutup diri.
Perasaan marah, malu, takut, cemas, cemburu, iri hati, sedih, gembira, kasih sayang dan ingin tahu termasuk bentuk-bentuk emosi yang sering tampak pada masa remaja awal. Pada umumnya, mereka belum mampu mengontrol emosi yang negatif karena emosinya lebih mendominasi tingkah lakunya.
Mereka baru bisa mengontrol emosi dalam banyak situasi bila terbiasa dsn terlatih menguasai emosi-emosi yang negatif. Kemampuan ini dicapai remaja dalam tahapan akhir remaja awal. Tennyson berpendapat, bahwa kebahagiaan seseorang dalam hidup ini bukan karena tidak adanya bentuk-bentuk emosi dalam diri, melainkan kebiasaannya memahami dan menguasai emosi-emosi dan nafsunya.
c. Perkembangan minat dan cita-cita
Minat adalah perasaan, harapan, pendirian, perasangka, rasa takut atau kecenderungan lain yang mengarahkan individu pada suatu pilihan tertentu. Adapun cita-cita merupakan perwujudan dari minat, yang berkaitan dengan masa depan yang direncanakan seseorang dalam menentukan pilihan, baik berkaitan dengan pemilihan pasangan hidup, pekerjaan, jenjang pendidikan, atau hal lain yang berkaitan dengan masa depan.
Minat dan cita-cita selama masa remaja terus berkembang. Pilihan remaja pada suatu minat tertentu terjadi dalam suatu jangka waktu, tetapi perasaan dan pikiran remaja terarahkan pada objek yang dimaksud. Dengan demikian, hal-hal lain yang bukan menjadi objek minat dan cita-cita cenderung dikesampingkan.
Pada masa remaja awal, beberapa bentuk minat remaja akan melemah, bahkan ditinggalkan, padahal minat itu sangat kuat pada masa kanak-kanaknya. Penelotian  Harold E. Jones (1948) terhadap sejumlah remaja sekolah yang berusia 13 tahun, membuktikan merosotnya minat terhadap permainan masa kanak-kanak seperti bermain kelereng, bola bekel, dan lain-lain.
Jenis minat awal yang paling kuat adalah minat pribadi dan sosial. Minat pribadi sangat dipengaruhi oleh kesan menyeluruh yang diharapkan oleh remaja terhadap lingkungan sekitarnya. Hal ini dipengaruhi oleh adanya kesadaran remaja awal bahwa lingkungan sosial menilai dirinya dengan menilai apa yang  dimilikinya, sekolahnya, keuangannya, benda-benda lain yang dimilikinya, dan teman-teman sepergaulannya. Pandangan teman sebaya dapat meningkat atau merosot terhadap dirinya hanya karena melihat apa yang dimilikinya.
Minat remaja terhadap rekreasi sangatlah kuat, tetapi mereka masih bersikap selektif akibat terbatasnya waktu, banyaknya tugas rumah dan sekolah. Antara remaja awal laki-laki dan perempuan terdapat perbedaan yang mencolok dalam hal minat dan ketenaran yang dicari di antara teman-temannya. Aktifitas olahraga yang membutuhkan kekuatan fisik, seperti sepak bola, badminton, basket, dan sejenisnya lebih  banyak diminati  remaja laki-laki, sedangkan remaja awal wanita lebih menyukai olahraga renang, senam dan sejenisnya. Yang jelas, remaja awal laki-laki dan perempuan menganggap olahraga hanya sebatas rekreasi saja.
Remaja awal mulai meletakkan minat pada agama. Remaja mulai mempertanyakan secara kritis masalah-masalah dogma agama yang telah diterimanya pada periode akhir masa kanak-kanak. Mereka mulai mendiskusikannya bersama teman-teman sebaya, tetapi hasilnya kurang maksimal karena kurangnya memanfaatkan kemampuannya untuk menangkap informasi yang bersifat abstrak itu. Alasannya,  karena mereka sendiri, akibat pengaruh perasaan dan emosinya, lebih memandang sesuatu dari segi praktis dan realitanya saja.
Minat atau cita-cita remaja awal terhadap sekolah dan jabatan banyak dipengaruhi oleh minat orang tua dan kelompoknya. Mereka akan berminat pada sekolah yang mengarah pada pekerjaan jika orang tua atau kelompoknya berorientasi ke sana.




6. Pertumbuhan dan Perkembangan Emosi Remaja Akhir
a. Pertumbuhan dan perkembangan sikap, perasaan atau emosi
Sikap remaja akhir relatif stabil menurut kesepatan para ahli. Artinya, senang atau tidak senangnya remaja, suka atau tidak sukanya terhadap suatu objek, didasarkan pada hasil pemikirannya sendiri, meskipun pendiriannya masih sering goyah oleh orang tua mereka sebagai akibat masih bergantungnya aspek ekonomi pada orang tua. Secara umum, dapat dikatakan bahwa pengaruh-pengaruh atau hasutan orang lain yang berusaha    atau mengubah sikap pandangan yang diyakininya benar akan dinilainya berdasarkann ukuran baik atau buruk, benar atau salah. Dia akan menghadapi secara tenang berbagai selisih pendapat dalam hal-hal tertentu.
Perasaan remaja akhir juga telah tenang, tetapi masih ada kemungkinan untuk berbenturan dengan orang lain. Perselisihan pendapat dengan orang lain kadang-kadang dihadapinya dengan perasaan yang lebih teratur dan dibatasi dengan norma orang dewasa, terutama orang dewasa yang dijadikan figur.
Sikap tertutup kepada orang dewasa, terutama dalam memecahkan segala permasalahan yang dihadapinya, merupakan salah satu sikap yang kuat dalam masa remaja akhir, khusunya pada paruh awal masa. Hal ini terjadi akibat adanya keinginan mereka untuk menentukan sikap, menjadi independen dan memecahkan segala permasalahannya sendiri. Umumnya, ,remaja terbuka terhadap kelompok teman-teman dekatnya dari yang sebaya. Dengan merka, remaja berdiskusi sampai menghabiskan waktu berjam-jam. Permasalahan yang biasa mereka bicarakan seputar topik-topik filsafat, selain pandangan hidup hal-hal romantis, rekreasi dan terkadang perhiasan atau pakaian.
b. Perkembangan minat atau cita-cita
Minat terhadap lawan jenis, minat terhadap rekreasi dan pesta, serta minat atau cita-cita terhadap pendidikan dan pekerjaan termasuk minat-minat yang berkembang dan dikuatkan dalam masa remaja akhir.
Minat remaja akhir terhadap lawan jenis semakin kuat, artinya remaja akhir tidak lagi menampakkan pemujaan secara berlebihan terhadap lawan jenis, dan cinta monyet pun tidak lagi tampak. Hati mereka benar-benar tertarik pada lawan jenis sehingga mereka terikat oleh kuatnya tali cinta. Seringkali mereka saling merindukan sehingga pergaulannya dengan kelompok teman sebaya semakin berkurang.
Pada masa remaja akhir, terutama dalam paruh akhir masa remaja akhir, minat dan cita-cita pendidikan atau jabatan pekerjaan remaja telah mantap dalam pilihan. Hal ini sejalan dengan fase-fase perkembangan pemilihan jabatan, seperti yang dikemukakan Ginzberg Associated (1951) dalam salah satu bukunya. Dalam pembagian fase-fase perkembangan, tergambar  bahwa dalam masa remaja (awam dan remaja akhir), remaja melewati tahap-tahap pemilihan dan subtahap pemilihan jabatan. Pemilihan yang nyata terjadi pada masa ini, adalah memerhatikan semua faktor dalam usaha pemilihan pekerjaan. Tahap ini dibagi dalam subtahap penjajakan, pemusatan, kemudian penentuan pekerjaan yang dipilih.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa jenis sekolah, pekerjaan/jabatan yang dipilih seseorang remaja akhir dipengaruhi oleh minat dan aspirasinya sendiri, minat dan aspirasi orang tua, kesan-kesan (menyangkut gengsi) dari teman-teman sebaya yang bersangkutan. Bedanya dengan masa remaja awal, remaja akhir telah melihat adanya peranan faktor kesempatan dalam memilih dan memasuki pendidikan dan pekerjaan atau jabatan tertentu. Fenomena ini mengurangi konflik-konflik yang terjadi dalam proses pemilihan jenis sekolah dan pekerjaan bagi mereka.














BAB III
Penutup

1. Kesimpulan.
• Emosi merupakan ungkapan yang terluap atas sesuatu yang dirasakan seseorang. Emosi terdiri dari banyak bentuk di antaranya, marah, cinta, senang, sedih, malu, terkejut, berang, gelisah, cemburu, takut, dsb.
• Remaja merupakan salah satu tahap dalam masa perkembangan manusia. Remaja adalah masa sulit di mana kebanyakan remaja menjadi lebih agresif dan lebih sulit diatur.
• Perkembangan emosi pada masa remaja, masa remaja adalah periode dari miningginya emosi, saat “badai dan tekanan”, namun  hanya sedikit bukti memunjukkan bahwa ini bersifat universal atau menonjol atau menetap seperti anggapan orang pada umumnya.

0 komentar:

Posting Komentar