MAKALAH
KEPRIBADIAN MANUSIA DAN HAL-HAL YANG MEMPENGARUHINYA
Disusun guna Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester : Tafsir Psikologi
Disusun Oleh :
Azra Asrafina 933402816
Kelompok 5
Kelas A
Dosen Pengampu :
Ibnu Hajar Ansori, M.Th.I
PROGRAM STUDY PSIKOLOGI ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KEDIRI
2017
A. Latar Belakang
Kepribadian merupakan suatu aspek yang melekat erat dengan keseharian suatu makhluk, dalam kajian tafsir psikologi ini kepribadian yang dikaji mengenai manusia. Adapun hal-hal yang dapat membentuk suatu kepribadian dan hal lain yang mempengaruhinya. Kepribadian dalam kajian peradaban dan pemikiran islam klasik telah mendapatkan posisi penting meski tidak pernah disebut teori. Dengan konsep yang tetap sama bersumber dari Al-Quran dan Hadis.
B. Pembahasan
1. Definisi Kepribadian Selamat
Kepribadian selamat adalah kepribadian yang berdimensi horizontal, yaitu berdasar akidah islam. Apabila kebutuhan fisik dan kebutuhan-kebutuhan naluri (generatif, mempertahankan diri, dan beragama) dapat dikendalikan oleh akal-kalbu dengan pemahaman yang dipenuhi dengan aktifitas yang sesuai dengan standar nilai, dan keyakinan islam. Dengan cara demikian ia akan meraih kebahagiaan, kemuliaan dan keselamatan di dunia dan akhirat.
Selama seorang manusia berakidahkan islam , maka ia dikatakan memiliki kepribadian islam, yang pasti selamat selama tidak keluar dari akidah islam, meskipun dalam praktik keislamannya ia mengalami banyak kekurangan dan kelemahan. Sehingga pandangan model Khawarij adalah keliru dari sudut pandang kepribadian.
Kepribadian dalam pandangan islam selalu dapat diperbaiki. Pengertian keimanan dan keislaman seseorang bisa bertambah maksudnya adalah kuantitas dan kualitas ajaran islam yang dapat diterapkan oleh seseorang, keluarga, masyarakat dalam menerapkan islam. Dalam hal ini rujuksn untuk kesempurnaan kepribadian justru sudah ada, yaitu pribadi Muhammad Rasulullah. Sosok pribadi yang lengkap dan wajib ditiru oleh seorang muslim. Kewajibaan ini mutlak sebagaimana firman Allah “Sesungguhnya telah ada pada diri Rosulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.
Kepribadian islam yang kuat adalah kepribadian yang pemikiran dan kecenderungannya tunduk kepada islam dengan meraih kesempurnaan dalam memenuhi kebutuhan fisik dan nalurinya, dengan memenuhi hal-hal yang fardhu dan juga sunnah, serta menjauhi yang makruh apalagi haram. Sedang dalam masalah kebendaan menyukai yang halal saja, kalaupun memilih yang mubah maka akan memilih yang cenderung memperkuat kepada yang halal atau mendekatkan kepada yang halal dan cenderung menjauhi barang yang haram dan makruh bahkan yang mubah yang sekiranya condong kepada makruh dan haram.
Kepribadian islam yang lemah adalah kepribadian yang pemikiran dan kecenderungannya tunduk kepada islam dengan meraih kesempurnaan dalam memenuhi kebutuhan fisik dan nalurinya dengan mudah memenuhi hal-hal yang fardhu, mubah serta berpaling dari mengerjakan yang haram, akan tetapi melakukan yang makruh dan meninggalkan yang sunnah. Sedangkan kepribadian islam yang lemah adalah kepribadian yang lebih banyak melakukan dosa, daripada pahala. Kelemahan itu banyak faktor yang menyebabkannya, tetapi pusatnya terletak pada kelemahan akal-kalbu dalam memgendalikan kebutuhan fisik dan naluri-nalurinya dari rangsangan internal dan eksternal baik dari lingkungan manusja, maupun adanya bisikan setan jin.
2. Korelasi Pola Pikir dan Pola Jiwa dalam Kepribadian
Pola pikir adalah metode seseorang untuk memahami sesuatu atau memikirkan sesuatu didasarkan pada asas tertentu. Atau metode di mana manusia mengikat realita dengan informasi-informasi, yaitu dengan menstandarkan informasi-informasi itu kepada satu kaidah atau kaidah tertentu.
Pola jiwa adalah metode mamusia mengikat dorongan-dorongan pemenuhan naluri dan kebutuhan jasmaninya dengan pemahaman. Atau dengan kata lain kecenderungan sebagai konsekuensi dari pengikatan pemahaman dengan dorongan yang ada.
Kemudian yang mengikat antara pola pikir dan pola jiwa adalah perkara alami dalam diri mamusia yaitu memikirkan segala sesuatu (benda-benda) dan perbuatan kemudian ia menghukumi semuanya dengan menstandarkan kepada kaidah tertentu, seperti aqidah yang ia peluk. Dan dari berpikir itu manusia menghasilkan pemahaman, yakni pemikiran dalamg memiliki penunjukan dalam realita di mana penunjukan tersebut terjadi melalui indra atau tergambarkan oleh benak, dan benak menetapkan penunjukan-penunjukannya seperti realita yang terindra. Kemudian pemahaman ini mempengaruhi dorongan pemenuhannya. Lalu manusia memiliki kecenderungan untuk memilikinya sebagai hasil dari mengikat pemahaman dengan dorongan-dorongan. Ketika itu terjadi pengikatan antara pola pikir manusia dengan pola jiwanya. Karena pemahamannya yang terbentuk melalui pemikiran tentang realita (yaitu pola pikirnya) memjadi hukum pada kecenderungannya sebagai hasil dari mengikat pemahaman dengan dorongan (pola jiwanya).
3. Hubungan Kepribadian dan Sikap Keagamaan
1. Struktur Kepribadian
Sigmund Freud merumuskan sistem kepribadian menjadi tiga sistem. Ketiga sistem itu dinamai id, ego dan super ego. Dalam diri orang yang memiliki jiwa yang sehat ketiga sistem itu bekerja dalam suatu susunan yang harmonis. Segala bentuk tujuan dan segala gerak-geriknya selalu memenuhi keperluan dan keinginan manusia yang pokok.
Sebaliknya, jika ketiga sistem itu bekerja secara bertentangan satu sama lainnya, maka orang tersebut dinamai sebagai orang yang tidak dapat menyesuaikan diri. Ia menjadi tidak puas dengan diri dan lingkungannya. Dengan kata lain, efisiensinya menjadi berkurang.
a. Id
Sebagai suatu sistem id mempunyai fungsi menuaikan prinsip kehidupan asli manusia berupa penyaluran dorongan naluriah. Dengan kata lain id mengemban prinsip kesenangan (pleasure principle), yang tujuannya untuk membebaskan manusia dari ketegangan dorongan naluri dasar: makan, minum, seks dan sebagainya.
b. Ego
Ego merupakan sistem yang berfungsi menyalurkan dorongan id ke keadaan yang nyata. Freud menamakan misi yang diemban oleh ego sebagai prinsip kenyataan (objective/reality principle).
Segala bentuk doronga naluri dasar yang berasal dari id hanya dapat direalisasi dalam bentuk nyata melalui bantuan ego. Ego juga mengandung prinsip kesadaran.
c. Super Ego
Sebagai suatu sistem yang memiliki unsur moral dan keadilan, maka sebagian besar super ego mewakili alam ideal. Tujuan super ego adalah membawa individu ke arah kesempurnaan sesuai dengan pertimbangan keadilan dan moral. Ia merupakan kode modal seseorang dan berfungsi pula sebagai pengawas tindakan yang dilakukan oleh ego.
Jika tindakan itu sesuai dengan pertimbangan moral dan keadilan, maka ego mendapat ganjaran berupa rasa puas atau senang. Sebaliknya jika bertentangan, maka ego menerima hukuman berupa rasa gelisah dan cemas. Super ego memiliki dua anak sistem, yaitu ego ideal dan hati nurani.
2. H,J Eysenck
Menurut Eysenck, kepribadian tersusun atas tindakan-tindakan dan disposisi-disposisi yang terorganisasi dalam susunan hierarkis berdasarkan atas keumuman dan kepentingannya, diurut dari bawah hingga ke atas adalah:
a. Specific response, yaitu tindakan atau respon yang terjadi pada suatu keadaan atau kejadian tertentu.
b. Habituak response, mempunyai corak yang lebih umum daripada specific response, yaitu respon-respon yang berulang-ulang terjadi saat individu menghadapi kondisi atau situasi yang sama.
c. Trait, yaitu terjadi saat habitual respon yang saling berhubungan satu sama lain, dan cenderung ada pada individu tertentu.
d. Type, yaitu organisasi di dalam individu yang lebih umum.
3. Sukamto M.M
Menurut pendapat Sukamto M.M,, kepribadian terdiri dari empat aspek yaitu:
• Qalb, (angan-angan kehatian)
• Fuad (persaan/hati nurani/ulu hati)
• Ego (aku sebagai pelaksana dari kepribadian)
• Tingkah laku (wujud gerakan)
Meskipun keempat aspek itu masing-masing mempunyai fungsi, sifat, komponen, prinsip kerja dan dinamika masing-masing, namun keempatnya berhubungan erat dan tidak bisa dipisah-pisahkan.
a. Qalb
Qalb adalah hati yang menurut terminologis artinya sesuatu yang berbolak-balik (sesuatu yang lebih), berasal dari kata qalaba, artinya membolak-balikkan. Qalb bisa diartikan hati sebagai daging sekepal (biologis) dan juga bisa berarti kehatian. Dalam sebuah Hadis Nabi riwayat Bukhari/Muslim berbunyi, “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada sekepal daging. Kalau itu baik, baiklah seluruh tubuh. Kalau itu rusak, rusaklah seluruh tubuh. Itulah Qalb”.
Secara nafsiologis, Qalb di sini dapat diartikan sebagai radar kehidupan.
Qalb adalah reservoir energi nafsiah yang menggerakkan ego dan fuad. Dilihat dari beberapa segi, ada kecenderungan bahwa teori Freud tentang id mirip dengan karakter hati yang tidak berisi iman, yaitu qalb yang selalu menuntut kepuasan dan menganut prinsip kesenangan (pleasure principle). Ia memghendaki agar segala sesuatu segera dipenuhi atau dilaksanakan. Kalau satu segi sudah terpenuhi, ia menuntut lagi yang lain dan begitu seterusnya. Ia menjadi anak yang manja dari kepribadian.
b. Fuad
Fuad adalah perasaan yang terdalam dari hati yang sering kita sebut Hati nurani (cahaya mata hati) dan berfungsi sebagai penyimpan daya ingatan. Ia sangat sensitif terhadap gerak atau dorongan hati dan merasakan akibatnya. Kalau hati kufur, fuad pun kufur dan menderita. Kalau hati bergejolak karena terancam oleh bahaya, atau hati tersentuh oleh siksaan batin, fuad terasa seperti terbakar. Kalau hati tenang, fuad pun tenteramdan senang. Satu segi kelebihan fuad dibanding dengan hati ialah, bahwa fiad itu dalam situasi bagaimanapun, tidak bisa dusta. Ia tidak bisa mengkhianati kesaksian terhadap apa yang dipantulkan oleh hati dan apa yang diperbuat oleh ego. Ia berbicara apa adanya. Berbagai rasa yang dialami oleh fuad dituturkan dalam Al-Quran sebagai berikut:
1) Fuad bisa bergoncang gelisah dalam QS. Al-Qashash 22:10
Dan fuad ibu Musa menjadi bingung (kosong). Hampir saja ia membukakan rahasia (Musa), jika Aku tidak meneguhkan hatinya, sehingga ia menjadi orang yang beriman.
2) Dengan diwahyukannya Al-Quran kepada Nabi, fuad Nabi menjadi teguh dalam QS. Al-Furqan 25:32
Dan orang-orang kafir bertanya: “Mengapa Al-Quran tidak diturunkan kepadanya dengan sekaligus?” Demikianlah, karena dengan (cara) itu, Aku hendak meneguhkan fuadmu, dan Aku bacakan itu dengan tertib (sebaik-baiknya).
3) Fuad tidak bisa berdusta dalam QS. Al-Najm 53:11
Fuad tidak berdusta tentang apa yang dilihatnya.
4) Orang yang zalim hatinya kosong (bingung) dalam QS Ibrahim 14:43
Demgan terburu-buru sambil menundukkan kepala, mereka tidak berkedip, tetapi fuadnya kosong (bingung).
5) Orang musyrik, fuad dan pandangannya dibolak-nalikkan/digoncangkan dalam QS. Al-An’am 6:110
Aku digoncangkan fuad dan pandangan mereka (kaum musyrikin), sebagaimana sejak semula mereka tidak mau beriman, dan aku biarkan mereka dalam kedurhakaannya mengembara tanpa arah tertentu.
c. Ego
Aspek ini timbul karena kebutuhnan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan (realitas). Ego atau aku bisa dipandang sebagai aspek eksekutif kepribadian, mengontrol cara-cara yang ditempuh, memilih kebutuhan-kebutuhan, memilih objek-objek yang bisa memenuhi kebutuhan, mempersatukan pertentangan antara qalb, dan fuad dengan dunia luar. Ego adalah derivat dari qalb dan bukan untuk merintanginya. Kalau qalb hanya mengenal dunia sesuatu yang subjektif dan yang objek (dunia realitas). Di dalam fungsinya, ego berpegang pada prinsip kenyataan (reality principle). Tujuan prinsip kenyataan ini adalah, mencari objek yamg tepat (serasi) untuk mereduksikan ketegangan yang timbul dalam organisme. Ia merumuskan suatu rencana untuk pemuasan kebutuhan dan mengujinya (biasanya dengan tindakan) untuk pemuasan kebutuhan dan mengujinya dengan tindakan untuk mengetahui apakah rencana itu berhasil atau tidak.
d. Tingkah laku
Nafsiolohi kepribadian berangkat dari kerangka acuan dan asumsi-asumsi subjektif tentang tingkah laku manusia, karena menyadari bahwa tidak seorang pun bisa bersikap objektif sepenuhnya dalam mempelajari manusia. Tinhkah laku ditentukan oleh keseluruhan pengalaman yang disadari oleh pribadi. Kesadaran merupakan sebab dari tingkah laku. Artinya, bahwa apa yang dipikir dan dirasakan oleh individu itu menentukan apa yang akan dikerjakan. Adanya nilai yang dominan mewarnai seluruh kepribadian seseorang dan ikut serta menentukan tingkah lakunya.
Masalah normal dan abnormal tentang tingkah laku, dalam nafsiologi ditentukan oleh nilai dan norma yang sifatnya universal. Orang yang disebut normal adalah orang yang seoptimal mungkin melaksanakan iman dan amal saleh di segala tempat. Kebalikan dari ketentuan itu adalah abnormal, yaitu sifat-sifat zalim, fasik, syirik, kufur, nifak dan sejenis itu.
4. Pembentukan Kepribadian Islam
“Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, Ya Tuhan kami tidaklah Engkau ciptakan ini sebagai sia-sia, Maha Suci Engkau , maka selamatkan kami dari azab nereka”.
Manusia mendapatkan pengetahuan-pengetahuannya melalui jalan inderanya. Dua indera yang terpenting untuk mendapatkan pengetahuan-pengetahuan tersebut adalah indera pendengaran dan indra penglihatan. Melalui penginderaan dan pengetahuan itu melahirkan respon, sikap dan keputusan yang benar.
“Dan kami telah menjadikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati”.
“Dan Dialah yang telah menjadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) sedikit sekali kalian bersyukur”.
“Dan telah menjadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) amat sedikit kalian bersyukur”.
Pendengaran dan penglihatan adalah dua indera yang dengan keduanya manusia dapat menerima mayoritas pemikirannya bahkan hampir seluruh pemikirannya.
Untuk membentuk kepribadian islam adalah dengan memberikan pemikiran pemikiran yang dibutuhkan untuk membentuk pola pikirnya kemudian pola jiwanya. Sedangkan metode yang paling tepat untuk memberikan pemikiran-pemikiran ini sekaligus mengambilnya adalah metode transfer pemikiran (at-talaqqiy al-fikriy). Dengan metode ini manusia mengambil pemikiran-pemikirannya melalui pendemgaran atau melalui bacaan lalu ia mendengar atau membaca lafaz-lafaz dalam kalimat yang memiliki makna. Kemudian ia memahami makna-maknanya yang sebenarnya, bukan makna makna yang ia kehendaki atau makna yang dikehendaki oleh yang membimbingnya. Kemudian ia memahami penunjukkan yang terindera sehingga ia mampu menggambarkan dengan bahasanya sendiri. Ia juga mampu mentransfer pemikiran-pemikiran ini kepada orang lain melalui metode sebagaimana ia telah menerima pemikiran-pemikiran itu, yaitu metode transfer pemikiran.
Metode transfer pemikiran menekankan pada kualitas pemahaman karena disampaikan oleh mereka yang memgamalkan ilmu yang diajarkan. Jadi bukan saja kebenaran matan tetapi juga mensyaratkan kredibilitas dan inyegritas pribadi.
Pemikiran dan kecenderungan adalah alami pada diri manusia. Sedang menjadikan aqidah al-islam sebagai dasar bagi berpikir dan kecenderungannya, keduanya merupakan ciptaan manusia.
Maka merupakan suatu keharusan bagi siapa saja yang ingin membentuk kepribadian islam manusia agar memulai dengan asas ini, yaitu aqidah islam. Dengan mengkaji aqidah ini melalui proses berpikir bukan hanya pengajaran dam pengjapalan, dengan menetapkan secar rasional bahwa Allah itu ada dan bahwa al-Quran merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada Rosulullah untuk seluruh alam, kemudian beriman dengan aqidah-aqidah naqliyah yang terdapat di dalam al-Quran.
Setelah asas terbentuk, yaitu aqidah islam, maka selanjutnya harus membekali manusia dengan pemikiran-pemikiran tentang saqafah islam (peradaan islam) supaya ia mampu memikirkan segala sesuatu dan perbuatan atas dasar islam. Saqafah tersebut ada yang berupa aqliyah (rasional) seperti tauhid, dan syar’iyah seperti fikih dan tafsir, dan ada juga yang berupa bahasa (lughawiyah) seperti nahwu dan balaghah. Manusia berbeda-beda dalam menangkap saqafah disebabkan perbedaan kemampuan rasio mereka dan kekuatan daya ingatnya. Seorang muslim sekedar menjadikan aqidah islam sebagai dasar bagi pola pikir dan pola jiwa, yakni sebagai dasar bagi pemikiran dan kecenderungannya, telah mencukupi untuk membentuk kepribadian islam, karena ia telah menghukumi realitas atas dasar aqidah islam, dan ia menentukan posisi segala sesuatu dan perbuatan yang memenuhi naluri-naluri dan kebutuhan jasmaninya atas dasar aqidah islam. Ia cenderumg kepada sesuatu yang halal dan berpaling dari sesuatu yang haram.
Untuk mengembangkan pola pikir islam harus ada pembekalan tentang saqafah islam yang menjadikan seorang muslim mempunyai kemampuan mengambil hukum syara’ dan dalil-dalil syara’ dengan sendirinya. Saqafah islam itu menjadikan seorang muslim mempunyai kemampuan membentuk pola pikir islam melalui saqafah islam.
Untuk mengembangkan pola jiwa islam, harus mengikat dorongan-dorongan naluri dengan pemahaman ysng dihasilkan dari pola pikir islam. Adalah suatu keharusan adanya kehidupan dalam kondisi iman untuk mewujudkan kondisi iman dari diri seorang muslim yaitu dengan memperbanyak ibadah sunnah seperti tadabbur pada ayat-ayat al-Quran dan tadabbur tentang keindahan makhluk-makhluk Allah dan memperhatikan dan mencermati perjalanan Rosulullah dan perjalanan para sahabatnya.
Dalam kondisi iman ini seorang muslim dapat merasakan betapa keagungan dan kebesaran al-Khaliq dan kekuasaan-Nya, dan menambah akan kesadaran hubungannya dengan Allah. Dari sana, kondisi iman ini mampu menguatkan pola jiwanya dan menjadikannya menjalankan kecenderungan dan aktivitasnya sesuai perintah Allah dan larangan-Nya.
5. Dinamika Kepribadian
Kepribadian memiliki semacam unsur yang secara altif ikut mempengaruhi aktivitas seseorang. Unsur-unsur tersebut adalah:
1. Energi rohaniah (physic energy) yang berfungsi sebagai pengatur aktivitas rohaniah seperti berpikir, mengingat, mengamati dan sebagainya,
2. Naluri, yaitu berfungsi sebagai pengatur kebutihan primer seperti makan, minum dan seks. Sumber naluri adalah kebutuhan jasmaniah dan gerak hati. Berbeda dengan energi rohaniah, maka naluri memiliki sumber, maksud, dan tujuan.
3. Ego, yang berfungsi untuk meredakan ketegangan dalam diri dengan cara melakukan aktivitas penyesuaian dorongan-dorongan yang ada dengan kenuataan objektif (realitas). Ego memiliki kesadaran untuk menyelaraskan dorongan-dorongan yang baik dan buruk hingga tidak terjadi kegelisahan atau ketegangan batin.
4. Super ego, yang berfungsi sebagai pemberi ganjaran batin baik berupa penghargaan (rasa puas, senang, berhasil) maupun berupa hukuman (rasa bersalah, berdosa, menyesal). Penghargaan batin diperankan oleh ego-ideal, sedangkan hukuman batin dilakukan oleh hati nurani.
Dalam kaitannya dengan tingkah laku keagamaan, maka dalam kepribadian manusia sebenarnya telah diatur semacam sistem kerja untuk menyelaraskan tingkah laku manusia agar tercapai ketenteraman dalam batinnya. Secara fitrah manusia memang terdorong untuk melakukan sesuatu yang baik, benar dan indah. Namun, terkadang naluri mendorong manusia untuk segera memenuhi kebutuhannya yang bertentangan dengan realita yang ada. Misalmya, dorongan untuk makan ingin dipenuhi, tetapi makanan tidak ada (realita), maka timbul dorongan untuk mencuri. Jika perbuatan itu dilaksanakan, maka ego (aku sadar) akan merasa bersalah, karena mendapat hukuman dari ego-ideal (norma yang terbentuk dalam batin baik oleh norma masyarakat maupun agama). Sebaliknya, jika dorongan untuk mencuri tidak dilaksanakan, maka ego akan memperoleh penghargaan dari hati nurani.
Pemenuhan dorongan pertama akan menyebabkan terjadi kegelisahan pada ego, sedangkan pemenuhan dorongan kedua akan menjadikan ego tenteram. Dengan demikian, kemampuan ego untuk menahan diri tergantung dari pembentukan ego-ideal. Dalam kaitan inilah bimbingan dan pendidikan agama sangat berfungsi bagi pembentukan kepribadian seseorang. Pendidikam moral dan akhlak ini adalah dalam upaya membekali ego-ideal dengan nilai-nilai luhur. Dan menurut Sigmund Freud, ego-ideal ini terbentuk oleh lingkungan baik di keluarga maupun masyarakat. Sedangkan peletak dasarnya adalah orang tua.
Peran orang tua dalam meletakkan dasar-dasar pemdidikan moral agama dan akhlak memang demikian menentukan. Bahkan dalam ajaran islam misalnya dikemukakan, bahwa Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka keduaborang tuanyalah yang bertanggung jawab apakah anak itu (nantinya) akan memjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi. Demikian dominannya pengaruh kedua orang tua dalam pembentukan dasar-dasar agama. Bahkan pengaruh tersebut sampai pada dasar keyakinan (akidah). Keberagaman anak hampir sepenuhnya ditentukan oleh pengaruh orang tua.
Seperti yang dikemukakan, oleh Erich Fromm, bahwa pembentukan kepribadian tergantung dari dua faktor lingkungan, yaitu asimilasi dan sosialisasi. Asimilasi menyangkut hubungan manusia dengan lingkumgan bendawi, sedangkan sosialisasi menyangkut hubungan dengan lingkungan manusiawi. Kedua faktor ini ikut berpengaruh dalam pembentukan watak atau karakter sebagai bagian daribunsur kepribadian. Watak atau karakter adalah unsur kepribadian yang terbentuk oleh pengaruh luar (lingkungan). Berbeda dengan temperamen sebagai unsur kepribadian yang diperoleh dari bawaan.
Bila dalam sebuah keluarga, perlakuan orang tua terlalu keras, maka anak-anak memperoleh lingkungan manusiawi (sosialisasi) yang tidak sejalan dengan nilai-nilai ajaran agama. Maka walaupun dalam lingkungan asimilasi anak-anak diperkenalkan dengan benda-benda keagamaan, pembentukan kepribadian agama secara utuh boleh dikatakan sulit terpenuhi. Sebaliknya, bila sikap dan perlakuan orang tua sejalan dengan nilai-nilai ajaran agama (sosialisasi), tetapi tidak didukung dengan pengenalan lingkungan bendawi (asimilasi) yang sesuai dengan nilai-nilai tersebut, maka besar kemungkinan pembentukan kepribadian keagamaan juga akan gagal. Oleh karena itu, untuk membentuk kepribadian yang didasarkan nilai-nilai ajaran islam, kedua faktor lingkungan tersebut harus sinkron.
Pembentukan kepribadian dimulai dari penanaman sistem nilai pada diri anak. Dengan demikian, pembentukan kepribadian keagamaan perlu dimulai dari penanaman sistem nilai yang bersumber dari ajaran agama. Sistem nilai sebagai realitas yang abstrak yang dirasakan dalam diri sebagai pendorong atau prinsip-prinsip yang menjadi pedoman hidup. Dalam realitasnya, nilai terlihat dalam pola bertingkah laku, pola pikir, dan sikap-sikap seorang pribadi atau kelompok. Hal ini menunjukkan, bahwa sistem nilai merupakan unsur kepribadian yang tercermin dalam sikap dan perilaku, yang diyakini sebagai sesuatu yang benar dan perlu dipertahankan. Sistem nilai merupakan identitas seseorang.
Dengan demikian, pembentukan kepribadian keagamaan harus dimulai dsri pembentukan sistem nilai yang bersumber dari nilai-nilai ajaran agama dalam diri anak. Adapun pembentukan sistem nilai ini tergantung dari perlakuan yang diberikan oleh orang tua dan ketersediaan lingkungan keagamaan yang mendukung. Untuk membentuk sikap ketaatan, maka dalam keluarga. Selain itu, ia harus pula menyediakan lingkungan bendawi yang sejalan dengan pembentukan ketaatan beragama.
Secara konkret dapat digambarkan, bahwa untuk menanamkan nilai-nilai ibadat orang tua harus mencontohkan sikap dan perilaku ketaatan beribadat. Selain itu dalam rumah tangga mereka harus melengkapi benda-benda yang berhubungan dan digunakan dalam melaksanakan ibadah tersebut. Pembentukan sistem nilai akan kurang berpengaruh bila tidak disertai dengan keteladanan dan contoh, serta lingkungan bendawi yang tidak sejalan dengannya. Anak-anak memang belajar dari perlakuan orang tua terhadap dirinya, serta suasana lingkungan yang akrab dengan dirinya.
Sistem nilai memberi pengaruh dalam pembentukan kepribadian yang memuat empat unsur utama. Kepribadian secara utuh terlihat dari ciri khas (individuality), sikap dan perilaku lahir dan batin (personality), pola pikir (mentality), dan jati diri (identity). Dengan demikian, kepribadian yang berdasarkan nilai-nilai ajaran agama terlihat dari kemampuan seseorang untuk menunjukkan ciri khas dirinya sebagai penganut agama, sikap, dan perilakunya secara lahir dan batin yang sejalan dengan nilai-nilai ajaran agama yang dianutnya, pola pikirnya memiliki kecemderungan terhadap keyakinan agamanya, serta kemampuannya untuk mempertahankan jati diri sebagai seorang yang beragama.
C. Kesimpulan
Mengacu kepada pendapat Erich Fromm, terlihat bahwa hubungan pembentukan kepribadian dengan nilai-nilai moral keagamaan. Mereka yang hidup di lingkungan keluarga yang taat dan selalu berhubungan dengan benda-benda keagamaan serta berhubungan dengan orang yang taat beragama, bagaimanapun akan memberi pengaruh dalam pembentukan karakternya. Sebaliknya, mereka yang asing dengan lingkungan seperti itu tentunya akan sulit untuk mengenal nilai-nilai keagamaan, baik melalui benda-benda keagamaan seperti rumah ibadah, perangkat ibadah, dan sebagainya ataupun tindak kegamaan seperti upacara keagamaan dan lain sebagainya.
Dalam konteks ini terlihat bagaimana pentingnya pendidikan agama diberikan kepada anak-anak dalam usia dini dalam upaya mengisi nilai-nilai agama agar karakternya terbentuk, o!eh pengaruh nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai agama ini kemudian akan memperkuat ego-ideak yang sekaligus akan berfungsi sebagai pemberi ganjaran batin. Jika kondisi ego-ideak ini berperan secara dominan dalam diri seseorang, maka ego akan senantiasa terpelihara dari pengaruh dorongan naluri yang memyalahi norma dan nilai agama.
Daftar Pustaka
Purwanto, Yadi, 2011. Psikologi Kepribadian: Integrasi Nafsiyah dan Aqliyah Perspektif Pskologi Islam. Bandung:Refika Aditama
Jalaluddin. 2015. Psikologi Agama. Jakarta:RajaGrafindo Persada
Suryabrata, Sumadi. 2003. Psikologi Kepribadian. Jakarta : RajaGrafindo
Disusun guna Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester : Tafsir Psikologi
Disusun Oleh :
Azra Asrafina 933402816
Kelompok 5
Kelas A
Dosen Pengampu :
Ibnu Hajar Ansori, M.Th.I
PROGRAM STUDY PSIKOLOGI ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KEDIRI
2017
A. Latar Belakang
Kepribadian merupakan suatu aspek yang melekat erat dengan keseharian suatu makhluk, dalam kajian tafsir psikologi ini kepribadian yang dikaji mengenai manusia. Adapun hal-hal yang dapat membentuk suatu kepribadian dan hal lain yang mempengaruhinya. Kepribadian dalam kajian peradaban dan pemikiran islam klasik telah mendapatkan posisi penting meski tidak pernah disebut teori. Dengan konsep yang tetap sama bersumber dari Al-Quran dan Hadis.
B. Pembahasan
1. Definisi Kepribadian Selamat
Kepribadian selamat adalah kepribadian yang berdimensi horizontal, yaitu berdasar akidah islam. Apabila kebutuhan fisik dan kebutuhan-kebutuhan naluri (generatif, mempertahankan diri, dan beragama) dapat dikendalikan oleh akal-kalbu dengan pemahaman yang dipenuhi dengan aktifitas yang sesuai dengan standar nilai, dan keyakinan islam. Dengan cara demikian ia akan meraih kebahagiaan, kemuliaan dan keselamatan di dunia dan akhirat.
Selama seorang manusia berakidahkan islam , maka ia dikatakan memiliki kepribadian islam, yang pasti selamat selama tidak keluar dari akidah islam, meskipun dalam praktik keislamannya ia mengalami banyak kekurangan dan kelemahan. Sehingga pandangan model Khawarij adalah keliru dari sudut pandang kepribadian.
Kepribadian dalam pandangan islam selalu dapat diperbaiki. Pengertian keimanan dan keislaman seseorang bisa bertambah maksudnya adalah kuantitas dan kualitas ajaran islam yang dapat diterapkan oleh seseorang, keluarga, masyarakat dalam menerapkan islam. Dalam hal ini rujuksn untuk kesempurnaan kepribadian justru sudah ada, yaitu pribadi Muhammad Rasulullah. Sosok pribadi yang lengkap dan wajib ditiru oleh seorang muslim. Kewajibaan ini mutlak sebagaimana firman Allah “Sesungguhnya telah ada pada diri Rosulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”.
Kepribadian islam yang kuat adalah kepribadian yang pemikiran dan kecenderungannya tunduk kepada islam dengan meraih kesempurnaan dalam memenuhi kebutuhan fisik dan nalurinya, dengan memenuhi hal-hal yang fardhu dan juga sunnah, serta menjauhi yang makruh apalagi haram. Sedang dalam masalah kebendaan menyukai yang halal saja, kalaupun memilih yang mubah maka akan memilih yang cenderung memperkuat kepada yang halal atau mendekatkan kepada yang halal dan cenderung menjauhi barang yang haram dan makruh bahkan yang mubah yang sekiranya condong kepada makruh dan haram.
Kepribadian islam yang lemah adalah kepribadian yang pemikiran dan kecenderungannya tunduk kepada islam dengan meraih kesempurnaan dalam memenuhi kebutuhan fisik dan nalurinya dengan mudah memenuhi hal-hal yang fardhu, mubah serta berpaling dari mengerjakan yang haram, akan tetapi melakukan yang makruh dan meninggalkan yang sunnah. Sedangkan kepribadian islam yang lemah adalah kepribadian yang lebih banyak melakukan dosa, daripada pahala. Kelemahan itu banyak faktor yang menyebabkannya, tetapi pusatnya terletak pada kelemahan akal-kalbu dalam memgendalikan kebutuhan fisik dan naluri-nalurinya dari rangsangan internal dan eksternal baik dari lingkungan manusja, maupun adanya bisikan setan jin.
2. Korelasi Pola Pikir dan Pola Jiwa dalam Kepribadian
Pola pikir adalah metode seseorang untuk memahami sesuatu atau memikirkan sesuatu didasarkan pada asas tertentu. Atau metode di mana manusia mengikat realita dengan informasi-informasi, yaitu dengan menstandarkan informasi-informasi itu kepada satu kaidah atau kaidah tertentu.
Pola jiwa adalah metode mamusia mengikat dorongan-dorongan pemenuhan naluri dan kebutuhan jasmaninya dengan pemahaman. Atau dengan kata lain kecenderungan sebagai konsekuensi dari pengikatan pemahaman dengan dorongan yang ada.
Kemudian yang mengikat antara pola pikir dan pola jiwa adalah perkara alami dalam diri mamusia yaitu memikirkan segala sesuatu (benda-benda) dan perbuatan kemudian ia menghukumi semuanya dengan menstandarkan kepada kaidah tertentu, seperti aqidah yang ia peluk. Dan dari berpikir itu manusia menghasilkan pemahaman, yakni pemikiran dalamg memiliki penunjukan dalam realita di mana penunjukan tersebut terjadi melalui indra atau tergambarkan oleh benak, dan benak menetapkan penunjukan-penunjukannya seperti realita yang terindra. Kemudian pemahaman ini mempengaruhi dorongan pemenuhannya. Lalu manusia memiliki kecenderungan untuk memilikinya sebagai hasil dari mengikat pemahaman dengan dorongan-dorongan. Ketika itu terjadi pengikatan antara pola pikir manusia dengan pola jiwanya. Karena pemahamannya yang terbentuk melalui pemikiran tentang realita (yaitu pola pikirnya) memjadi hukum pada kecenderungannya sebagai hasil dari mengikat pemahaman dengan dorongan (pola jiwanya).
3. Hubungan Kepribadian dan Sikap Keagamaan
1. Struktur Kepribadian
Sigmund Freud merumuskan sistem kepribadian menjadi tiga sistem. Ketiga sistem itu dinamai id, ego dan super ego. Dalam diri orang yang memiliki jiwa yang sehat ketiga sistem itu bekerja dalam suatu susunan yang harmonis. Segala bentuk tujuan dan segala gerak-geriknya selalu memenuhi keperluan dan keinginan manusia yang pokok.
Sebaliknya, jika ketiga sistem itu bekerja secara bertentangan satu sama lainnya, maka orang tersebut dinamai sebagai orang yang tidak dapat menyesuaikan diri. Ia menjadi tidak puas dengan diri dan lingkungannya. Dengan kata lain, efisiensinya menjadi berkurang.
a. Id
Sebagai suatu sistem id mempunyai fungsi menuaikan prinsip kehidupan asli manusia berupa penyaluran dorongan naluriah. Dengan kata lain id mengemban prinsip kesenangan (pleasure principle), yang tujuannya untuk membebaskan manusia dari ketegangan dorongan naluri dasar: makan, minum, seks dan sebagainya.
b. Ego
Ego merupakan sistem yang berfungsi menyalurkan dorongan id ke keadaan yang nyata. Freud menamakan misi yang diemban oleh ego sebagai prinsip kenyataan (objective/reality principle).
Segala bentuk doronga naluri dasar yang berasal dari id hanya dapat direalisasi dalam bentuk nyata melalui bantuan ego. Ego juga mengandung prinsip kesadaran.
c. Super Ego
Sebagai suatu sistem yang memiliki unsur moral dan keadilan, maka sebagian besar super ego mewakili alam ideal. Tujuan super ego adalah membawa individu ke arah kesempurnaan sesuai dengan pertimbangan keadilan dan moral. Ia merupakan kode modal seseorang dan berfungsi pula sebagai pengawas tindakan yang dilakukan oleh ego.
Jika tindakan itu sesuai dengan pertimbangan moral dan keadilan, maka ego mendapat ganjaran berupa rasa puas atau senang. Sebaliknya jika bertentangan, maka ego menerima hukuman berupa rasa gelisah dan cemas. Super ego memiliki dua anak sistem, yaitu ego ideal dan hati nurani.
2. H,J Eysenck
Menurut Eysenck, kepribadian tersusun atas tindakan-tindakan dan disposisi-disposisi yang terorganisasi dalam susunan hierarkis berdasarkan atas keumuman dan kepentingannya, diurut dari bawah hingga ke atas adalah:
a. Specific response, yaitu tindakan atau respon yang terjadi pada suatu keadaan atau kejadian tertentu.
b. Habituak response, mempunyai corak yang lebih umum daripada specific response, yaitu respon-respon yang berulang-ulang terjadi saat individu menghadapi kondisi atau situasi yang sama.
c. Trait, yaitu terjadi saat habitual respon yang saling berhubungan satu sama lain, dan cenderung ada pada individu tertentu.
d. Type, yaitu organisasi di dalam individu yang lebih umum.
3. Sukamto M.M
Menurut pendapat Sukamto M.M,, kepribadian terdiri dari empat aspek yaitu:
• Qalb, (angan-angan kehatian)
• Fuad (persaan/hati nurani/ulu hati)
• Ego (aku sebagai pelaksana dari kepribadian)
• Tingkah laku (wujud gerakan)
Meskipun keempat aspek itu masing-masing mempunyai fungsi, sifat, komponen, prinsip kerja dan dinamika masing-masing, namun keempatnya berhubungan erat dan tidak bisa dipisah-pisahkan.
a. Qalb
Qalb adalah hati yang menurut terminologis artinya sesuatu yang berbolak-balik (sesuatu yang lebih), berasal dari kata qalaba, artinya membolak-balikkan. Qalb bisa diartikan hati sebagai daging sekepal (biologis) dan juga bisa berarti kehatian. Dalam sebuah Hadis Nabi riwayat Bukhari/Muslim berbunyi, “Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada sekepal daging. Kalau itu baik, baiklah seluruh tubuh. Kalau itu rusak, rusaklah seluruh tubuh. Itulah Qalb”.
Secara nafsiologis, Qalb di sini dapat diartikan sebagai radar kehidupan.
Qalb adalah reservoir energi nafsiah yang menggerakkan ego dan fuad. Dilihat dari beberapa segi, ada kecenderungan bahwa teori Freud tentang id mirip dengan karakter hati yang tidak berisi iman, yaitu qalb yang selalu menuntut kepuasan dan menganut prinsip kesenangan (pleasure principle). Ia memghendaki agar segala sesuatu segera dipenuhi atau dilaksanakan. Kalau satu segi sudah terpenuhi, ia menuntut lagi yang lain dan begitu seterusnya. Ia menjadi anak yang manja dari kepribadian.
b. Fuad
Fuad adalah perasaan yang terdalam dari hati yang sering kita sebut Hati nurani (cahaya mata hati) dan berfungsi sebagai penyimpan daya ingatan. Ia sangat sensitif terhadap gerak atau dorongan hati dan merasakan akibatnya. Kalau hati kufur, fuad pun kufur dan menderita. Kalau hati bergejolak karena terancam oleh bahaya, atau hati tersentuh oleh siksaan batin, fuad terasa seperti terbakar. Kalau hati tenang, fuad pun tenteramdan senang. Satu segi kelebihan fuad dibanding dengan hati ialah, bahwa fiad itu dalam situasi bagaimanapun, tidak bisa dusta. Ia tidak bisa mengkhianati kesaksian terhadap apa yang dipantulkan oleh hati dan apa yang diperbuat oleh ego. Ia berbicara apa adanya. Berbagai rasa yang dialami oleh fuad dituturkan dalam Al-Quran sebagai berikut:
1) Fuad bisa bergoncang gelisah dalam QS. Al-Qashash 22:10
Dan fuad ibu Musa menjadi bingung (kosong). Hampir saja ia membukakan rahasia (Musa), jika Aku tidak meneguhkan hatinya, sehingga ia menjadi orang yang beriman.
2) Dengan diwahyukannya Al-Quran kepada Nabi, fuad Nabi menjadi teguh dalam QS. Al-Furqan 25:32
Dan orang-orang kafir bertanya: “Mengapa Al-Quran tidak diturunkan kepadanya dengan sekaligus?” Demikianlah, karena dengan (cara) itu, Aku hendak meneguhkan fuadmu, dan Aku bacakan itu dengan tertib (sebaik-baiknya).
3) Fuad tidak bisa berdusta dalam QS. Al-Najm 53:11
Fuad tidak berdusta tentang apa yang dilihatnya.
4) Orang yang zalim hatinya kosong (bingung) dalam QS Ibrahim 14:43
Demgan terburu-buru sambil menundukkan kepala, mereka tidak berkedip, tetapi fuadnya kosong (bingung).
5) Orang musyrik, fuad dan pandangannya dibolak-nalikkan/digoncangkan dalam QS. Al-An’am 6:110
Aku digoncangkan fuad dan pandangan mereka (kaum musyrikin), sebagaimana sejak semula mereka tidak mau beriman, dan aku biarkan mereka dalam kedurhakaannya mengembara tanpa arah tertentu.
c. Ego
Aspek ini timbul karena kebutuhnan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan (realitas). Ego atau aku bisa dipandang sebagai aspek eksekutif kepribadian, mengontrol cara-cara yang ditempuh, memilih kebutuhan-kebutuhan, memilih objek-objek yang bisa memenuhi kebutuhan, mempersatukan pertentangan antara qalb, dan fuad dengan dunia luar. Ego adalah derivat dari qalb dan bukan untuk merintanginya. Kalau qalb hanya mengenal dunia sesuatu yang subjektif dan yang objek (dunia realitas). Di dalam fungsinya, ego berpegang pada prinsip kenyataan (reality principle). Tujuan prinsip kenyataan ini adalah, mencari objek yamg tepat (serasi) untuk mereduksikan ketegangan yang timbul dalam organisme. Ia merumuskan suatu rencana untuk pemuasan kebutuhan dan mengujinya (biasanya dengan tindakan) untuk pemuasan kebutuhan dan mengujinya dengan tindakan untuk mengetahui apakah rencana itu berhasil atau tidak.
d. Tingkah laku
Nafsiolohi kepribadian berangkat dari kerangka acuan dan asumsi-asumsi subjektif tentang tingkah laku manusia, karena menyadari bahwa tidak seorang pun bisa bersikap objektif sepenuhnya dalam mempelajari manusia. Tinhkah laku ditentukan oleh keseluruhan pengalaman yang disadari oleh pribadi. Kesadaran merupakan sebab dari tingkah laku. Artinya, bahwa apa yang dipikir dan dirasakan oleh individu itu menentukan apa yang akan dikerjakan. Adanya nilai yang dominan mewarnai seluruh kepribadian seseorang dan ikut serta menentukan tingkah lakunya.
Masalah normal dan abnormal tentang tingkah laku, dalam nafsiologi ditentukan oleh nilai dan norma yang sifatnya universal. Orang yang disebut normal adalah orang yang seoptimal mungkin melaksanakan iman dan amal saleh di segala tempat. Kebalikan dari ketentuan itu adalah abnormal, yaitu sifat-sifat zalim, fasik, syirik, kufur, nifak dan sejenis itu.
4. Pembentukan Kepribadian Islam
“Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, Ya Tuhan kami tidaklah Engkau ciptakan ini sebagai sia-sia, Maha Suci Engkau , maka selamatkan kami dari azab nereka”.
Manusia mendapatkan pengetahuan-pengetahuannya melalui jalan inderanya. Dua indera yang terpenting untuk mendapatkan pengetahuan-pengetahuan tersebut adalah indera pendengaran dan indra penglihatan. Melalui penginderaan dan pengetahuan itu melahirkan respon, sikap dan keputusan yang benar.
“Dan kami telah menjadikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati”.
“Dan Dialah yang telah menjadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) sedikit sekali kalian bersyukur”.
“Dan telah menjadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) amat sedikit kalian bersyukur”.
Pendengaran dan penglihatan adalah dua indera yang dengan keduanya manusia dapat menerima mayoritas pemikirannya bahkan hampir seluruh pemikirannya.
Untuk membentuk kepribadian islam adalah dengan memberikan pemikiran pemikiran yang dibutuhkan untuk membentuk pola pikirnya kemudian pola jiwanya. Sedangkan metode yang paling tepat untuk memberikan pemikiran-pemikiran ini sekaligus mengambilnya adalah metode transfer pemikiran (at-talaqqiy al-fikriy). Dengan metode ini manusia mengambil pemikiran-pemikirannya melalui pendemgaran atau melalui bacaan lalu ia mendengar atau membaca lafaz-lafaz dalam kalimat yang memiliki makna. Kemudian ia memahami makna-maknanya yang sebenarnya, bukan makna makna yang ia kehendaki atau makna yang dikehendaki oleh yang membimbingnya. Kemudian ia memahami penunjukkan yang terindera sehingga ia mampu menggambarkan dengan bahasanya sendiri. Ia juga mampu mentransfer pemikiran-pemikiran ini kepada orang lain melalui metode sebagaimana ia telah menerima pemikiran-pemikiran itu, yaitu metode transfer pemikiran.
Metode transfer pemikiran menekankan pada kualitas pemahaman karena disampaikan oleh mereka yang memgamalkan ilmu yang diajarkan. Jadi bukan saja kebenaran matan tetapi juga mensyaratkan kredibilitas dan inyegritas pribadi.
Pemikiran dan kecenderungan adalah alami pada diri manusia. Sedang menjadikan aqidah al-islam sebagai dasar bagi berpikir dan kecenderungannya, keduanya merupakan ciptaan manusia.
Maka merupakan suatu keharusan bagi siapa saja yang ingin membentuk kepribadian islam manusia agar memulai dengan asas ini, yaitu aqidah islam. Dengan mengkaji aqidah ini melalui proses berpikir bukan hanya pengajaran dam pengjapalan, dengan menetapkan secar rasional bahwa Allah itu ada dan bahwa al-Quran merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada Rosulullah untuk seluruh alam, kemudian beriman dengan aqidah-aqidah naqliyah yang terdapat di dalam al-Quran.
Setelah asas terbentuk, yaitu aqidah islam, maka selanjutnya harus membekali manusia dengan pemikiran-pemikiran tentang saqafah islam (peradaan islam) supaya ia mampu memikirkan segala sesuatu dan perbuatan atas dasar islam. Saqafah tersebut ada yang berupa aqliyah (rasional) seperti tauhid, dan syar’iyah seperti fikih dan tafsir, dan ada juga yang berupa bahasa (lughawiyah) seperti nahwu dan balaghah. Manusia berbeda-beda dalam menangkap saqafah disebabkan perbedaan kemampuan rasio mereka dan kekuatan daya ingatnya. Seorang muslim sekedar menjadikan aqidah islam sebagai dasar bagi pola pikir dan pola jiwa, yakni sebagai dasar bagi pemikiran dan kecenderungannya, telah mencukupi untuk membentuk kepribadian islam, karena ia telah menghukumi realitas atas dasar aqidah islam, dan ia menentukan posisi segala sesuatu dan perbuatan yang memenuhi naluri-naluri dan kebutuhan jasmaninya atas dasar aqidah islam. Ia cenderumg kepada sesuatu yang halal dan berpaling dari sesuatu yang haram.
Untuk mengembangkan pola pikir islam harus ada pembekalan tentang saqafah islam yang menjadikan seorang muslim mempunyai kemampuan mengambil hukum syara’ dan dalil-dalil syara’ dengan sendirinya. Saqafah islam itu menjadikan seorang muslim mempunyai kemampuan membentuk pola pikir islam melalui saqafah islam.
Untuk mengembangkan pola jiwa islam, harus mengikat dorongan-dorongan naluri dengan pemahaman ysng dihasilkan dari pola pikir islam. Adalah suatu keharusan adanya kehidupan dalam kondisi iman untuk mewujudkan kondisi iman dari diri seorang muslim yaitu dengan memperbanyak ibadah sunnah seperti tadabbur pada ayat-ayat al-Quran dan tadabbur tentang keindahan makhluk-makhluk Allah dan memperhatikan dan mencermati perjalanan Rosulullah dan perjalanan para sahabatnya.
Dalam kondisi iman ini seorang muslim dapat merasakan betapa keagungan dan kebesaran al-Khaliq dan kekuasaan-Nya, dan menambah akan kesadaran hubungannya dengan Allah. Dari sana, kondisi iman ini mampu menguatkan pola jiwanya dan menjadikannya menjalankan kecenderungan dan aktivitasnya sesuai perintah Allah dan larangan-Nya.
5. Dinamika Kepribadian
Kepribadian memiliki semacam unsur yang secara altif ikut mempengaruhi aktivitas seseorang. Unsur-unsur tersebut adalah:
1. Energi rohaniah (physic energy) yang berfungsi sebagai pengatur aktivitas rohaniah seperti berpikir, mengingat, mengamati dan sebagainya,
2. Naluri, yaitu berfungsi sebagai pengatur kebutihan primer seperti makan, minum dan seks. Sumber naluri adalah kebutuhan jasmaniah dan gerak hati. Berbeda dengan energi rohaniah, maka naluri memiliki sumber, maksud, dan tujuan.
3. Ego, yang berfungsi untuk meredakan ketegangan dalam diri dengan cara melakukan aktivitas penyesuaian dorongan-dorongan yang ada dengan kenuataan objektif (realitas). Ego memiliki kesadaran untuk menyelaraskan dorongan-dorongan yang baik dan buruk hingga tidak terjadi kegelisahan atau ketegangan batin.
4. Super ego, yang berfungsi sebagai pemberi ganjaran batin baik berupa penghargaan (rasa puas, senang, berhasil) maupun berupa hukuman (rasa bersalah, berdosa, menyesal). Penghargaan batin diperankan oleh ego-ideal, sedangkan hukuman batin dilakukan oleh hati nurani.
Dalam kaitannya dengan tingkah laku keagamaan, maka dalam kepribadian manusia sebenarnya telah diatur semacam sistem kerja untuk menyelaraskan tingkah laku manusia agar tercapai ketenteraman dalam batinnya. Secara fitrah manusia memang terdorong untuk melakukan sesuatu yang baik, benar dan indah. Namun, terkadang naluri mendorong manusia untuk segera memenuhi kebutuhannya yang bertentangan dengan realita yang ada. Misalmya, dorongan untuk makan ingin dipenuhi, tetapi makanan tidak ada (realita), maka timbul dorongan untuk mencuri. Jika perbuatan itu dilaksanakan, maka ego (aku sadar) akan merasa bersalah, karena mendapat hukuman dari ego-ideal (norma yang terbentuk dalam batin baik oleh norma masyarakat maupun agama). Sebaliknya, jika dorongan untuk mencuri tidak dilaksanakan, maka ego akan memperoleh penghargaan dari hati nurani.
Pemenuhan dorongan pertama akan menyebabkan terjadi kegelisahan pada ego, sedangkan pemenuhan dorongan kedua akan menjadikan ego tenteram. Dengan demikian, kemampuan ego untuk menahan diri tergantung dari pembentukan ego-ideal. Dalam kaitan inilah bimbingan dan pendidikan agama sangat berfungsi bagi pembentukan kepribadian seseorang. Pendidikam moral dan akhlak ini adalah dalam upaya membekali ego-ideal dengan nilai-nilai luhur. Dan menurut Sigmund Freud, ego-ideal ini terbentuk oleh lingkungan baik di keluarga maupun masyarakat. Sedangkan peletak dasarnya adalah orang tua.
Peran orang tua dalam meletakkan dasar-dasar pemdidikan moral agama dan akhlak memang demikian menentukan. Bahkan dalam ajaran islam misalnya dikemukakan, bahwa Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka keduaborang tuanyalah yang bertanggung jawab apakah anak itu (nantinya) akan memjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi. Demikian dominannya pengaruh kedua orang tua dalam pembentukan dasar-dasar agama. Bahkan pengaruh tersebut sampai pada dasar keyakinan (akidah). Keberagaman anak hampir sepenuhnya ditentukan oleh pengaruh orang tua.
Seperti yang dikemukakan, oleh Erich Fromm, bahwa pembentukan kepribadian tergantung dari dua faktor lingkungan, yaitu asimilasi dan sosialisasi. Asimilasi menyangkut hubungan manusia dengan lingkumgan bendawi, sedangkan sosialisasi menyangkut hubungan dengan lingkungan manusiawi. Kedua faktor ini ikut berpengaruh dalam pembentukan watak atau karakter sebagai bagian daribunsur kepribadian. Watak atau karakter adalah unsur kepribadian yang terbentuk oleh pengaruh luar (lingkungan). Berbeda dengan temperamen sebagai unsur kepribadian yang diperoleh dari bawaan.
Bila dalam sebuah keluarga, perlakuan orang tua terlalu keras, maka anak-anak memperoleh lingkungan manusiawi (sosialisasi) yang tidak sejalan dengan nilai-nilai ajaran agama. Maka walaupun dalam lingkungan asimilasi anak-anak diperkenalkan dengan benda-benda keagamaan, pembentukan kepribadian agama secara utuh boleh dikatakan sulit terpenuhi. Sebaliknya, bila sikap dan perlakuan orang tua sejalan dengan nilai-nilai ajaran agama (sosialisasi), tetapi tidak didukung dengan pengenalan lingkungan bendawi (asimilasi) yang sesuai dengan nilai-nilai tersebut, maka besar kemungkinan pembentukan kepribadian keagamaan juga akan gagal. Oleh karena itu, untuk membentuk kepribadian yang didasarkan nilai-nilai ajaran islam, kedua faktor lingkungan tersebut harus sinkron.
Pembentukan kepribadian dimulai dari penanaman sistem nilai pada diri anak. Dengan demikian, pembentukan kepribadian keagamaan perlu dimulai dari penanaman sistem nilai yang bersumber dari ajaran agama. Sistem nilai sebagai realitas yang abstrak yang dirasakan dalam diri sebagai pendorong atau prinsip-prinsip yang menjadi pedoman hidup. Dalam realitasnya, nilai terlihat dalam pola bertingkah laku, pola pikir, dan sikap-sikap seorang pribadi atau kelompok. Hal ini menunjukkan, bahwa sistem nilai merupakan unsur kepribadian yang tercermin dalam sikap dan perilaku, yang diyakini sebagai sesuatu yang benar dan perlu dipertahankan. Sistem nilai merupakan identitas seseorang.
Dengan demikian, pembentukan kepribadian keagamaan harus dimulai dsri pembentukan sistem nilai yang bersumber dari nilai-nilai ajaran agama dalam diri anak. Adapun pembentukan sistem nilai ini tergantung dari perlakuan yang diberikan oleh orang tua dan ketersediaan lingkungan keagamaan yang mendukung. Untuk membentuk sikap ketaatan, maka dalam keluarga. Selain itu, ia harus pula menyediakan lingkungan bendawi yang sejalan dengan pembentukan ketaatan beragama.
Secara konkret dapat digambarkan, bahwa untuk menanamkan nilai-nilai ibadat orang tua harus mencontohkan sikap dan perilaku ketaatan beribadat. Selain itu dalam rumah tangga mereka harus melengkapi benda-benda yang berhubungan dan digunakan dalam melaksanakan ibadah tersebut. Pembentukan sistem nilai akan kurang berpengaruh bila tidak disertai dengan keteladanan dan contoh, serta lingkungan bendawi yang tidak sejalan dengannya. Anak-anak memang belajar dari perlakuan orang tua terhadap dirinya, serta suasana lingkungan yang akrab dengan dirinya.
Sistem nilai memberi pengaruh dalam pembentukan kepribadian yang memuat empat unsur utama. Kepribadian secara utuh terlihat dari ciri khas (individuality), sikap dan perilaku lahir dan batin (personality), pola pikir (mentality), dan jati diri (identity). Dengan demikian, kepribadian yang berdasarkan nilai-nilai ajaran agama terlihat dari kemampuan seseorang untuk menunjukkan ciri khas dirinya sebagai penganut agama, sikap, dan perilakunya secara lahir dan batin yang sejalan dengan nilai-nilai ajaran agama yang dianutnya, pola pikirnya memiliki kecemderungan terhadap keyakinan agamanya, serta kemampuannya untuk mempertahankan jati diri sebagai seorang yang beragama.
C. Kesimpulan
Mengacu kepada pendapat Erich Fromm, terlihat bahwa hubungan pembentukan kepribadian dengan nilai-nilai moral keagamaan. Mereka yang hidup di lingkungan keluarga yang taat dan selalu berhubungan dengan benda-benda keagamaan serta berhubungan dengan orang yang taat beragama, bagaimanapun akan memberi pengaruh dalam pembentukan karakternya. Sebaliknya, mereka yang asing dengan lingkungan seperti itu tentunya akan sulit untuk mengenal nilai-nilai keagamaan, baik melalui benda-benda keagamaan seperti rumah ibadah, perangkat ibadah, dan sebagainya ataupun tindak kegamaan seperti upacara keagamaan dan lain sebagainya.
Dalam konteks ini terlihat bagaimana pentingnya pendidikan agama diberikan kepada anak-anak dalam usia dini dalam upaya mengisi nilai-nilai agama agar karakternya terbentuk, o!eh pengaruh nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai agama ini kemudian akan memperkuat ego-ideak yang sekaligus akan berfungsi sebagai pemberi ganjaran batin. Jika kondisi ego-ideak ini berperan secara dominan dalam diri seseorang, maka ego akan senantiasa terpelihara dari pengaruh dorongan naluri yang memyalahi norma dan nilai agama.
Daftar Pustaka
Purwanto, Yadi, 2011. Psikologi Kepribadian: Integrasi Nafsiyah dan Aqliyah Perspektif Pskologi Islam. Bandung:Refika Aditama
Jalaluddin. 2015. Psikologi Agama. Jakarta:RajaGrafindo Persada
Suryabrata, Sumadi. 2003. Psikologi Kepribadian. Jakarta : RajaGrafindo


0 komentar:
Posting Komentar