Kamis, 06 Mei 2021

Membahagiakan Derita

Pernah nggak, ya pernah dong masa enggak.

Sejenis sedang di fase mengharapkan sesuatu yang beneran berharap, sudah memaksimalkan usaha dan memperkuat intensitas doa. Ternyata, sesuatu yang menjadi hajat besar itu, tidak dikabulkan. Kecewa? Ya, pastilah masa enggak.

Gelisah, seketika minder, kalut, hilang semangat hidup yang lebih ekstrim sampe merutuk dan mempertanyakan emang kita salah apa kok minta gini aja gak dikasih.



Semacam kita lupa, manusia punya rencana, Tuhan punya kehendak. Seolah ketika segala yang kita inginkan tidak tercapai, maka sesuatu yang sedang dijalani saat ini merupakan hukuman, kutukan. Kita mendadak dibuat lupa gitu aja, kalau Tuhan pasti memberikan yang terbaik untuk hambanya, lupa kalau Tuhan maha adil dengan segala ketetapannya. Kita lupa buat bergegas memetik hikmah atas segala ketentuannya.



Di fase kecewa ketika yang diinginkan tidak terkabul, kita mendadak jadi pembangkang ulung. Marah, sedih, kalut. Semua jadi satu, memperaduk pikiran antara mau menyalahkan usaha atau mendebat doa. Antara kita yang lupa mengukur kapasitas diri atau lupa buat memasrahkan dan menyerahkan segala keputusan pada Tuhan. Intinya, kita kecewa. Entah, pada siapa. 



Kita mengira melesetnya rencana adalah penderitaan. Ya, kita lupa Tuhan adalah si pembuat rencana terhandal. Butuh susah payah buat menemukan "oh ini toh hikmahnya" atas sesuatu yang terjadi, bisa sehari, seminggu, bertahun-tahun. Dan saya pribadi bersyukur bisa menemukan oh ini toh hikmahnya pada semua kejadian getir yang pernah terlewati. Masih mengupayakan meridhoi, memaafkan, dan tentu saja belajar lebih keras untuk menemukan titik ikhlas menjalani semuanya. Dilakoni sak mlaku-mlakune. Toh, adewe yo mung lakon. Toh dunyo iki yo gak ono opo-opone sakliyane digawe mampir melu giveaway~



Perlu refleksi berulang-ulang untuk kemudian cepat belajar menemukan hikmah, cepat mengejar poin suatu kejadian. Karena tanpa terkecuali, setiap manusia pasti diberi ujian. Sedang yang kita butuhkan adalah sedikit mengotak-atik persepsi atas derita. Menganggap derita adalah entitas yang perlu dikufuri, dirutuk dan diingkari atau menerima, menjalani dan menganggapnya jalan kebahagiaan lain yang diberikan Tuhan.



Membahagiakan derita? Mungkin bisa dengan pelan-pelan melibatkan Tuhan dalam segala aspek kehidupan.

0 komentar:

Posting Komentar