Senin, 24 Mei 2021

Upaya Berdamai

Setelah mandi, duduk manis depan laptop main photoshop. Membereskan beberapa hal yang sempat tertunda. Ya, belajar mendapatkan kesakinahan hidup dengan menikmati semuanya. Yang jelas sih, paling terasa karena dua minggu ini benar-benar off mengais validasi dari sosial media. Hidupku terasa sangat jauh lebih baik dari sebelumnya. Nggak ada yang namanya pikiran capek hidup. Nggak ada yang ceritanya sambatan. Cukup hidup untuk hari ini, bernafas, menikmati segala hal yang ada di depan mata. Menghabiskan buku bacaan bisa 2x lebih cepat dari sebelumnya. Ya, ini baru hidup.



Kayak sekarang ini di titik terdamai hidup. Settle finansial, bisa aktualisasi, desain grafis jalan, semakin tumbuh awareness untuk mengembangkan diri, sekarang lagi semangat-semangatnya memperbaiki pola hidup, meningkatkan skill mindfulness. Paling utama sedang di fase bisa melakukan apapun yang mau dilakukan. Tapi ya gitu, aku tetaplah manusia bertumbuh biasa saja yang hidup tanpa ambisiusitas. Kalau dibilang hidup gini-gini aja. Ya emang. Tapi kenapa? Apa yang salah dari mensyukuri atas segala hal yang sudah digariskan?



Oh iya, dalam upaya berdamai ini, aku azra asrafina si social media addicted, berusaha sebisa mungkin mengurangi mainan sosmed, semacam yok bisa yok zro fokus ke kehidupan nyata dan gak mudah terdistraksi sama keramaian sosial media. Aku nggak lantas jadi kafir quraisy kok walau nggak update, nggak berempati, nggak turut berdoa untuk kedamaian Palestina. Tetap jadi muslimah pringas pringis yang totalitas ketika ngeluangin waktu buat orang-orang yang ada di sekitar. Tetap jadi nom-noman akas yang pontang panting melakukan apa yang bisa dilakukan dengan harapan semoga membawa kebermanfaatan. Dan ya itu tanpa perlu diperlihatkan di sosial media.



Semakin menyadari, real life-ku nggak no life no life amat. Walau dicibir karena belum lulus, atau selalu down ngeliat jadwal pendaftaran munaqosah sedangkan progres skripsiku nol putul. Ya, setidaknya pengejaran sakinah dan upaya belajar mindful ini tuh ngebantu kayak ya oke take it slow yok bisa. Ya walau sadar sih jatuhnya jadi terkesan "kok uripmu nyantai ae, padahal koncomu wes podo mblayu"



Heh! So what. Terus opo' o? Hidup bukan balapan dengan orang lain. Pasti pernah merasa pencapaian orang lain, ah atau nggak usah jauh ke orang lain, ke teman sepantaran, teman seangkatan, sekelas yang mereka sudah berprogres keren. Kemudian kitanya ngerasa anjerr kok aku sek ngene ngene ae alias kemudian anxiety overthinking insinyur insektisida kentank rebus. Heh! So whatTerus opo'o?Sadar gak sih karena kita terus terusan ngeforsir melihat pencapaian orang lain, kita lupa buat menengok diri sendiri. Kita lupa kita juga manusia yang bisa melakukan sesuatu dan memulai berproses tanpa harus terus menerus menjadi penonton story pencapaian orang lain! Dan setiap proses masing-masing kita pasti punya timeline dan deadline sendiri. Gak perlu disamakan. Itulah moms dampak buruknya sosial media yang memaksa kita buat menyamakan standar dan memaksa value orang lain buat diterapkan ke diri kita padahal nggak cocok. Tapi kembali ke pikiran masing-masing, dampak buruk dari sosmed ya kita sendiri yang rasakan. Kalau kitanya emang baik-baik saja dengan menghabiskan berjam-jam scroling sosial media, ya sudah teruskan aja. Tapi kalau memang sosial media memicu ketidaknyamanan tersendiri, ya kita sendiri juga mestinya tau apa yang perlu dilakukan. Intinya balik ke individu untuk lebih memperhatikan kinerja manajemen diri biar jadinya kita yang mengendalikan sosial media dan bukan sosial media yang mengendalikan kita.


Pokok e ini sebenarnya tulisan bersyukur atas semakin meningkatnya taraf ketenangan hidup dengan mengurangi distraksi-distraksi tidak penting. Thanks for reading. I love me.

0 komentar:

Posting Komentar